Latest Updates

CLIK GAMBAR

ANALISIS STRATEGI PEMBELAJARAN PENERAPANNYA DALAM MODEL PEMBELAJARAN PAI



ANALISIS STRATEGI PEMBELAJARAN
PENERAPANNYA DALAM MODEL PEMBELAJARAN PAI
DIKLAT PENGAWAS PAI ______________________________________________________
Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan                          Disampaikan oleh:
17 Juli 2010                                                                        Djunaidatul Munawaroh

Peserta Diklat Pengawas PAI yang budiman, dalam menjalankan tugas supervisi pendidikan agama Islam, kita sering dihadapkan pada persoalan yang terkait dengan pembelajaran. Misalnya, pelajaran agama Islam kurang diperlakukan setara dengan mata pelajaran umum oleh sekolah/siswa. Pembaharuan kurikulum belum direspons guru dengan baik, masih banyak di antara mereka yang tidak mau berubah dan tetap pada paradigma pembelajaran lama—mengajarkan materi urut buku, enggan membuat perencanaan yang berorientasi pada kompetensi secara kreatif-inovatif. Monoton dalam menggunakan metode ceramah tanpa variasi dan media, kurang memberdayakan siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Gagasan integrasi life skills dalam pembelajaran, CTL, dan PAIKEM berlalu begitu saja, sehingga pembelajaran agama Islam sering kali kurang bermakna bagi kehidupan siswa, dan kurang membawa perubahan sikap dan perilaku secara signifikan.
Sementara Pendidikan agama Islam di madrasah/sekolah, mempunyai posisi strategis dalam mengemban misi untuk mencapai tujuan pendidikan Nasional, khususnya dalam pengembangan potensi peserta didik yang beriman dan kertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia (Bab II pasal 3 UU RI No. 20/2003). Ditegaskan dalam acuan oprasional pengembangan KTSP (BSNP) bahwa Keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian peserta didik secara utuh.
Adapun tujuan yang diharapkan dari pembelajaran agama Islam sangat ideal yaitu untuk menghasilkan manusia yang sadar dalam beriman kepada Allah SWT sehingga menjadi orang yang bertakwa dan taat beribadah, berperilaku jujur, adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai, toleransi, disiplin, harmonis, dan produktif, baik personal maupun sosial[1].
Pelaksanaan pendidikan agama dituntut mengoptimalkan fungsinya, bukan hanya memberi wawasan teoritik-normatif untuk filter moral, tetapi juga memberi spirit bagi peningkatan kualitas hidup dan kinerja yang lebih baik. Karena itu pendidikan agama bukan semata-mata hanya menyampaikan pengetahuan keagamaan dan nilai-moral, tetapi menjadikan siswa yang dengan imannya kepada Allah Swt. mampu dan bersedia menjalani hidup sebagai muslim yang taat, dan senantiasa giat memperbaiki hidupnya.
Mengingat adanya segudang pengalaman profesi Pengawas, sebaiknya kesempatan ini kita gunakan sharing pengalaman dalam mengembangkan strategi dan model aplikatif pembelajaran PAI. Pembahasan ini diarahkan pada: (1) Menetapkan Paradigma Pembelajaran, (2) Mengenali Siswa Belajar, (3) strategi  Pengembangkan Pembelajaran, (4)  Penerapan Model-model PAIKEM untuk PAI. Dengan cara ini kita dapat saling melengkapi dan melakukan inovasi untuk mengkonstruksi model-model pembelajaran yang efektif untuk PAI.

A. Paradigma Pembelajaran
Dewasa ini telah terjadi pergeseran konsep pembelajaran, dari konsep pembelajaran konvensional menuju konsep pembelajaran modern, sebagai dampak dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama bidang psikologi belajar. Psikologi humanisme melihat individu sebagai organisme yang memiliki unsur-unsur manusiawi (human); seperti nalar (intelek), perasaan, intuisi, kehendak, hasrat, naluri dan kecakapan. Aktivitas kehidupan manusia merupakan pancaran dari unsur-unsur manusiawi tersebut; demikian pula halnya dengan belajar. Karena itu konsep pembelajarannya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan manusia secara utuh.
Jika paradigma pembelajaran konvensional memandang siswa sebagai “obyek” penerima informasi dari guru yang diposisikan sebagai “subyek”, maka pembelajaran modern penganut paradigma humanisme memandang siswa sebagai seorang pribadi yang dengan kemampuan potensialnya, dia menjadi “subyek” yang mampu mengekspresikan dirinya, memberi makna, dan bertindak terhadap lingkungannya.   
Bersadarkan paradigma tersebut, pembelajaran konvensional lebih menekankan  konsep "pengajaran", sebagai aktivitas guru untuk menyampaikan pengetahuan, sedangkan konsep"belajar", sebagai aktivitas siswa "menerima/menambah pengetahuan”. Pembelajaran seperti inilah yang dikenal dengan banking concept. Sementara  pembelajaran modern, lebih menekankan konsep "belajar", yang diartikan sebagai usaha siswa untuk mengembangkan diri sehingga terjadi perubahan perilaku” (change of behavior)[2] secara permanen. Dalam belajar siswa mempunyai kesempatan dan kebebasan untuk berekspresi; dengan mencari, menemukan, mendialogkan, mencoba, dan melakukan. Inilah yang dikenal dengan pembelajaran secara laboratoris. Dalam hal ini belajar tidak terbatas pada pengembangan intelektual tetapi menyentuh unsur perasaan dan motorik; karena itu perubahan perilaku dalam belajar bersifat menyeluruh, baik berkenaan dengan aspek pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. Dengan demikian pembelajaran harus memberi perhatian pada aspek: (1) logika, (2) praktik/kinestika, (3) etika, dan (4) estetika. Peran guru dalam pembelajaran modern adalah sebagai fasilitator. Dalam hal ini “mengajar”, diartikan sebagai kegiatan mengorganisasikan aktivitas siswa dalam arti  luas. Peran guru bukan hanya memberi informasi, melainkan juga mengarahkan dan menyediakan fasilitas belajar agar proses belajar lebih memadai. Dengan demikian pembelajaran dapat diartikan sebagai "upaya membelajarkan seseorang atau kelompok orang melalui berbagai usaha (effort), strategi, metode, dan pendekatan ke arah pencapaian tujuan yang telah direncanakan"[3]. Kegiatan pembelajaran ini dilakukan secara terprogram dalam sebuah disain pembelajaran, untuk mengkondisikan siswa agar termotivasi untuk belajar secara aktif, yang menekankan pada penciptaan kondisi dan penyediaan sumber belajar.  
Dari pengertian tersebut pembelajaran bermuara pada dua kegiatan pokok:
(1)    Bagaimana siswa melakukan tindakan perubahan perilaku melalui kegiatan belajar. Dalam hal ini belajar merupakan kegiatan internal (mental) siswa.
(2)    Bagaimana guru/pendidik melakukan kegiatan memfasilitasi siswa, penyampaian pesan (pengetahuan dan nilai) atau melatih keterampilan melalui kegiatan mengajar. Jadi mengajar merupakan pengaruh yang dikondisikan secara eksternal.

            Dalam mempelajari agama, secara garis besar ada dua cara pandang, pertama ajaran agama diposisikan sebagai doktrin yang diyakini berasal dari wahyu Allah yang suci, yang mengandung kebenaran mutlak. Karena itu ajaran agama harus dibelajarkan dengan pendekatan normatif-teologis. Fiqh, akhlak, dan al-Qur’an dipelajari untuk dipedomani dan diamalkan, berfikir rasional dan empirik dalam mempelajari akidah atau SKI, digunakan sebagai alat untuk mengokohkan kebenaran agama, meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Kedua, ajaran agama diposisikan sebagai pengetahuan sebagaimana pengetahuan lainnya, yang dikaji secara obyektif dan bebas nilai dengan pendekatan kritis. Hal ini seperti yang dilakukan terhadap ilmu-ilmu sosial.
            Namun demikian, mempelajari agama dalam Pendidikan Agama Islam di sekolah/madrasah lebih mengutamakan pendekatan normatif-teologis. Hal yang penting diperhatikan guru adalah bagaimana menanamkan nilai-nilai ajaran agama dalam jiwa siswa yang masih ada dalam masa perkembangan; sehingga menjadi pribadi yang sadar mengamalkan ajaran agama dalam kehidupannya, sebagaimana yang diharapkan dalam tujuan pendidikan agama Islam.
        
B. Mengenali siswa belajar
Pembelajaran merupakan kegiatan belajar yang kompleks, memfungsikan seluruh mental dan fisik siswa; yaitu mengembangkan (1) pikiran, (2) pancaindera, (3) kecakapan organ-organ tubuh, (4) perasaan dan hati nurani, serta (5)  intuisinya. Melvin Silbermen melengkapi pernyataan Confucius mengenai tiga macam cara belajar yang berbeda, yaitu—belajar dengan mendengar, dengan melihat, dan dengan melakukan. Sejalan dengan ini dia (Silbermen) menyatakan:
What I hear, I forget (apa yang saya dengar, saya lupa).
What I hear, see, and ask questions about or discuss with someone else, I begin to understand (apa yang saya dengar, lihat, pertanyakan atau diskusikan dengan orang lain, saya mulai memahami).
What I hear, see, discuss and do, I ackquire knowledge and skill (apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan saya lakukan, saya mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan).
What I teach to another, I master (apa yang saya ajarkan kepada orang lain, saya menguasainya).

Cara belajar yang demikian akan dapat melayani banyak siswa yang tentu berbeda-beda gaya belajarnya. Bobbi DePorter dan Mike Hernacki menyebutkan tiga tipe orang dengan gaya belajar yang berbeda yaitu:
(1)   tipe visual; Orang-orang tipe visual lebih mengingat apa yang dilihat dari pada apa yang didengar, pembaca cepat dan tekun, tidak begitu terganggu oleh kebisingan, akan tetapi dia mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis.
(2)   tipe auditorial; orang-orang verbal lebih mampu belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat atau dibaca, senang membaca dengan suara keras dan mendengarkan, sulit untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita, suka berbicara, berdiskusi dan menjelaskan sesuatu secara panjang lebar, dan bermasalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan visualisasi.
(3)   tipe kinestetik; orang-orang kinestetik lebih mampu belajar dengan praktik, banyak menggunakan isyarat tubuh, berkeinginan untuk melakukan segala sesuatu, menyukai permainan yang menyibukkan, berorientasi pada fisik dan banyak bergerak, dan tidak dapat duduk diam untuk waktu yang lama.

Tipologi di atas tidak berarti setiap orang hanya memiliki satu gaya belajar, akan tetapi dia memiliki kecenderungan untuk lebih mampu belajar dan menguasai suatu pengetahuan atau ketampilan dengan metode belajar yang sesuai dengan tipe dirinya. Karena itulah guru sedapat mungkin menerapkan metode-metode belajar dan menyusun model-model pembelajaran yang dapat memfasilitasi keberagaman tipe belajar dan membuat siswa aktif.
Sejalan dengan cara dan tipe belajar tersebut, dalam memproses pembelajaran, KTSP memberi acuan oprasional agar guru dapat memberi kesempatan siwa belajar:
(a)    belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (learning to believe)
(b)   belajar untuk memahami dan menghayati (learning to know),
(c)    belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif (learning to do),
(d)   belajar untuk hidup bersama dan berguna untuk orang lain (learning to live together), dan
(e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri (learning to be), melalui   proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan PAKEM).
  
Mengenai pola siswa belajar, Gagne menggolongkan ke dalam delapan pola, yang disusun secara berurut dan bertahap, yang dapat dibedakan antara satu dengan lainnya. Delapan pola tersebut adalah sebagai berikut:
  1. belajar isyarat (Signal learning); proses belajar untuk penguasaan tanda/fakta dan pola dasar perilaku. Pola  ini merupakan tahap paling dasar, sehingga tidak menuntut persyaratan. 
  2. belajar rangsangan dan tanggapan (Stimulus-Respons learning);  pola belajar ini termasuk jenis Classical Conditioning (Ivan Pavlov). Termasuk dalam tipe ini adalah tipe belajar dengan trial and error (coba ralat--Torndike).  Semakin singkat jarak S-R dengan S-R berikutnya, semakin kuat peneguhannya. 
  3. mempertautkan (chaining), dan tipe ke-4: asosiasi verbal; kedua pola belajar ini setaraf; yaitu belajar yang menghubungkan satuan ikatan S-R yang satu dengan yang lainnya. Kondisi yang diperlukan dalam belajar ini antara lain; penguasaan siswa terhadap sejumlah satuan pola S-R, baik psikomotorik maupun verbal; perlu adanya prinsip kesinambungan, pengulangan, penguatan selama berlangsungnya proses chaining dan association.
  4. belajar membedakan (discrimination learning); siswa mengadakan seleksi pengujian antara dua perangsang atau sejumlah stimulus yang diterimanya,  kemudian memilih pola-pola respon yang dianggap paling sesuai. Kondisi utama dalam berlangsungnya proses belajar ini adalah siswa mempunyai kemahiran  melakukan chaining  dan association serta pengalaman.
  5. belajar pengertian (concept learning); berdasarkan kesamaan ciri-ciri dari kesimpulan stimulus dan obyek-obyeknya, dia membentuk suatu pengertian atau konsep utama yang diperlukan yaitu kemahiran  membedakan dan proses kognitif dasar sebelumnya.
  6. belajar membuat generalisasi, hukum, dan kaidah (rule learning); siswa belajar mengadakan kombinasi berbagai konsep dengan menggunakan kaidah-kaidah logika formal (induktif, deduktif, analisis, sintesis, asosiasi, diferensiasi, komparasi dan kausalitas), sehingga siswa dapat memberikan kesimpulan tertentu yang mungkin selanjutnya dapat dipandang sebagai aturan; berupa prinsip, dalil, ketentuan, hukum, dan kaidah.
  7. belajar memecahkan masalah (problem solving)  pada tingkat ini siswa dapat merumuskan dan memecahkan masalah, memberikan respon terhadap rangsangan yang menggambarkan situasi problematik, mempergunakan berbagai kaidah yang telah dikuasainya. Proses  belajar tertinggi ini dapat berlangsung jika  proses-proses belajar sebelumnya telah dimiliki dan dikuasai siswa. Oleh sebab itu siswa hendaknya:
·         diberi stimulus yang dapat menimbulkan situasi bermasalah dalam diri anak.
·         Diberi kesempatan berlatih mencari alternatif pemecahannya.
·         Diberi kesempatan untuk berlatih melaksanakan memecahan dan  membuktiannya.

Melalui proses entering behavior, guru dapat mengenali tahap belajar atau pola belajar yang pernah dilalui siswa. Atas dasar itu pula guru dapat memilih alternatif strategi pengorganisasian bahan dan kegiatan pembelajaran.
Dengan memahami pola belajar siswa, diharapkan guru dapat mengembangkan pembelajaran yang "bermakna", yang tergambar dalam bentuk KERUCUT PENGALAMAN BELAJAR  EDGAR DALE; yaitu:  belajar melalui membaca (10%), mendengar(20%), melihat (30%), melihat dan mendengar(50%), mengatakan (70%), mengatakan dan melakukan secara praktis, serta dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari  (90%); dengan menggunakan  media dan sumber belajar yang sesuai.
Selanjutnya Gagne menjelaskan bahwa proses penerimaan informasi dalam pembelajaran, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk hasil belajar, terjadi karena adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1) motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan (penghayatan); (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik.

C. Pendekatan dalam Pembelajaran
Dari sisi aktivitas guru, terdapat beberapa pendekatan pembelajaran; yaitu pendekatan expository, inquiry-discocery, active dan creative learning, interaksi sosial dan tingkahlaku (behaviour). Sebagai contoh, berikut ini akan dikembangkan langkah-langkah dua model pendekatan yang utama.  
Kegiatan belajar siswa banyak dipengaruhi oleh pendekatan mengajar yang digunakan oleh guru. Richard Anderson mengajukan dua pendekatan; yaitu:
(1)   pendekatan yang berorientasi pada guru (teacher centred oriented)—guru sumber informasi, menyediakan, dan menyampaikan bahan—model  interaksi satu arah.  Pendekatan ini menggambarkan tipe pendidikan yang otokratis.
(2)   pendekatan yang berorientasi pada siswa (student centred oriented)—ada sumber informasi selain dari guru; yaitu siswa, media, kepustakaan,lingkungan, siswa aktif mencari, mengolah, menganalisis, memecahkan, dan menyimpulkan—model interaksi dua arah. Pendekatan ini menggambarkan tipe  pendidikan yang demokratis.

Ditinjau dari interaksinya, kedua pendekatan tersebut dibedakan dalam model pendekatan; expository dan inquiry-discovery.
(1)    Pendekatan expository;--pembelajaran model informasi. Pembelajaran model ini didasarkan pada paradigma bahwa "hakekat mengajar" adalah menyampaikan pengetahuan, dan siswa dipandang sebagai "obyek" yang menerima sesuatu yang disampaikan guru. Metode yang digunakan guru biasanya "ceramah atau penjelasan lisan (lecturing)",  dibantu dengan metode demonstrasi. Dalam interaksi ini guru berperan lebih aktif mengajar, melatih, mengarahkan nilai-nilai, sementara siswa perperan pasif untuk menerima pelajaran dan arahan guru. Belajar yang dibangun melalui interaksi "satu arah" ini dipandang sebagai proses "menyerap dan mengingat" informasi yang mengandalkan hafalan; sehingga cukup dengan tingkat aktivitas berfikir yang sederhana.

Langkah-langkah
a.       Preparasi. Guru mempersiapkan bahan selengkapnya, secara sistematis dan rapi.
b.      Appersepsi; guru bertanya atau memberi uraian singkat untuk menghubungkan pelajaran yang sudah dengan yang akan dipelajari, sehingga perhatian siswa  mengarah pada  pelajaran.
c.       Presentasi; guru menyajikan bahan dengan cara ceramah; atau menyuruh siswa membaca yang telah dipersiapkan.
d.      Resitasi; guru bahan bertanya sesuai dengan bahan yang dipelajari; atau siswa ditugaskan untuk menyatakan kembali dengan susunan kata-katanya sendiri tentang pokok masalah yang telah dipelajari, secara lisan atau tulisan. 
(2)       Pendekatan inquiry-discovery. Paradigmanya, bahwa siswa adalah sebagai "subyek" pembelajaran. Dalam hal ini siswa mempunyai kemampuan dasar (potensi) untuk berkembang secara optimal sesuai dengan kapasitas kemampuannya. "Proses belajar" digambarkan sebagai stimulus yang menantang siswa melakukan kegiatan belajar. Guru diperankan sebagai pembimbing dan fasilitator belajar, bertugas memilih masalah dan menyediakan sumber belajar. Akan tetapi bahan pelajaran yang disediakan guru tidak dalam bentuk final, siswa diberi peluang untuk mencari dan menemukan sendiri. Dengan demikian siswa lebih berperan aktif dalam melakukan kegiatannya sendiri, mengembangkan kreatifitas berfikir yang kompleks untuk memecahkan masalah. Metode pembelajaran yang digunakan  untuk mendukung pendekatan ini adalah metode-metode yang merangsang berfikir dan bertindak lebih komplek dan kreatif, seperti problem solving, project, resitasi, diskusi, simulasi, praktik, eksperimen, dan demonstrasi.
Langkah-langkah
a.       Simulasi; guru mengajukan permasalahan, menugaskan siswa membaca, atau mendengarkan uraian yang memuat permasalahan.
b.       Pengajuan Problem; (1) siswa mengidentifikasi permasalahan yang perlu pemecahan. (2) Memilih masalah yang telah teridentifikasi dan dirumuskan dalam bentuk pertanyaan (hipotesis).
c.       Pengumpulan Data; untuk menjawab pertanyaan dan pembuktian, siswa diminta mengumpulkan berbagai informasi yang relevan; misalnya dengan membaca literatur, uji coba, wawancara dengan nara sumber, mengamati kegiatan.
d.      Proses Pengolahan dan Analisis Data; seluruh informasi hasil bacaan, wawancara, observasi, uji coba, ditabulasi, dihitung, serta ditafsirkan hasilnya.
e.       Verifikasi; berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran atau informasi yang ada, pertanyaan (hipotesis) yang telah dirumuskan dicek kebenarannya, terjawab atau tidak, terbukti atau tidak.
f.        Generalisasi; berdasarkan hasil verifikasi tadi siswa belajar menarik kesimpulan atau generalisasi tertentu.
Sebagai latihan, coba terapkan kedua pendekatan tersebut dalam pembelajaran agama Islam, misalnya: studi kasus tentang mawaris dan pembagiannya, Kasus kehidupan janda yang ditinggal mati suami; dengan menggunakan metode yang bervariasi untuk mengembangkan kreatifitas berfikir siswa secara lebih kompleks.

D.   Contoh Model Penerapan PAIKEM  Untuk PAI
   Model PAIKEM, atau Pembelajaran Aktif Innovatif/Kreatif Efektif dan menyenangkan  (Joyful Learning) memiliki beberapa kriteria; antara lain:
  •  Menggunakan berbagai variasi metode, multi media
  •  Mengembangkan partisipasi siswa selam proses pembelajaran, misalnya—Pemberian pengalaman, latihan dan praktik, dan kerja dalam tim (aktif, kreatif, kooperatif)
  • Memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.
  • Kegiatan belajar dapat berlangsung di dalam dan di luar sekolah.
  • Multi aspek pengembangan (logika, kinestetika, etika, estetika)

Adapun Indikator PAIKEM, sebagai berikut:

Memotivasi siswa
u/ berpartisipasi aktif
      Mendorong setiap siswa untuk:
n  ikut aktif memberi pendapat
n  ikut aktif berbuat
n  ikut aktif mencari sumber
Inovatif
      Membuka peluang bagi siswa untuk:     
       mengkonstruksi sendiri pengalaman belajarnya   
       sehingga menjadi pengetahuan yang bermakna
       (meaningfull)
Kreatif
     Membuka peluang bagi siswa untuk:
n  mencari sendiri sesuai minat dan bakatnya
n  melakukan sendiri sesuai minat dan bakatnya
n  membangun kerjasama dengan siswa lain yang memiliki kesamaan minat dan bakatnya (cooperatif)
Efektif
n  Berpusat pada siswa
n  Belajar mandiri (Independent Learning)
n  Belajar berdasarkan masalah (Problem based learning)
n  Pembelajaran terpadu (integrated learning)
Menyenangkan
n  Suasana hangat dalam kelas
n  Betah belajar
n  Suasana yang lebih informal
n  Penggunaan berbagai macam media pembelajaran sebagai sumber belajar

      Berikut ini adalah contoh-contoh praktis model kegiatan pembelajaran yang mampu membuat siswa aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM). Dalam disain model-model ini digunakan variasi metode pembelajaran secara kombinatif, memanfaatkan tipe-tipe belajar siswa baik auditif, visual, maupun kinestetik; demikian juga fungsi intelek dan perasaannya sehingga kompetensi siswa dapat berkembang secara terpadu.

1. Jigsaw Learning
Model pembelajaran yang memiliki kesamaan dengan model “pertukaran dari kelompok” (group-to-group exchange), dengan suatu perbedaan penting: setiap siswa mengajarkan sesuatu.
Ini adalah alternatif menarik, ketika ada materi pelajaran yang banyak, dapat dipelajari dengan disingkat atau “dipotong”, dengan ketentuan tidak ada bagian yang harus diajarkan sebelum bagian yang lain.
Setiap kali siswa mempelajari sesuatu yang dipadukan dengan materi yang telah dipelajari oleh siswa lain, dibuat sebuah kumpulan pengetahuan yang bertalian.

Langkah-langkah:
1. Pilihlah materi belajar yang dapat dipisah menjadi bagian-bagian. Satu bagian dapat disingkat menjadi beberapa alenia atau beberapa halaman. Contoh, antara lain:
o   Materi Al-Qur’an: tujuan, Manfaat, dan Proses Turunnya.
o   Materi Hadits Nabi SAW.: Pengertian, Fungsi, Cara Mempedomani.
o   Materi Tarikh Islam: perkembangan intelektual, politik/militer, dan kebudayaan pada masa Keemasan-Bani Abbas. Dsb.

2. Hitunglah jumlah bagian materi belajar dan jumlah siswa. Bagikan tugas yang berbeda kepada kelompok siswa yang berbeda. Contoh: sebuah kelas terdiri atas 12 orang siswa. Anggaplah Anda membagi materi pelajaran dalam tiga bagian, kemudian Anda membentuk tiga kwartet (kelompok belajar yang terdiri dari empat orang) dengan tugas membaca, berdiskusi, dan mempelajari materi yang ditugaskan kepada mereka.

3. Setelah selesai, bentuklah kelompok ”Jigsaw Learning”. Setiap kelompok mempunyai seseorang wakil dari masing-masing kelompok (tiga kwartet) dalam kelas. Setiap anggota masing-masing kwartet menghitung 1,2,3, dan 4. kemudian bentuklah kelompok siswa ”Jigsaw Learning” dengan jumlah sama. Hasilnya akan terdapat 4 kelompok yang terdiri dari 3 orang (trio). Dalam setiap trio akan ada seorang peserta yang mempelajari bagian 1, seorang untuk bagian 2, dan seorang lagi bagian 3.

4. Mintalah anggota kelompok “Jigsaw” untuk mengajarkan materi yang telah dipelajari kepada yang lain.
5.  Kumpulkan kembali siswa ke kelas besar untuk memberi ulasan dan sisakan pertanyaan guna memastikan pemahaman yang tepat.

Variasi
a.       Berikan tugas baru, seperti menjawab pertanyaan kelompok tergantung akumulasi pengetahuan anggota kelompok jigsaw.
b.      Berikan tanggung jawab kepada siswa yang lain guna mempelajari kecakapan daripada informasi kognitif. Mintalah siswa mengajari peserta lain kecakapan yang telah mereka pelajari.

2.  Everyone Is a Teacher Here (Everyone can be a teacher)
Setiap Orang adalah Guru; ini merupakan sebuah model strategi yang mudah memperoleh partisipasi kelas yang besar dan tanggung jawab individu. Model pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk bertindak sebagai seorang ”pengajar” terhadap siswa lain.

Langkah-langkah:
1.  Bagikan kartu indeks kepada setiap siswa. Mintalah para peserta menulis sebuah pertanyaan yang mereka miliki tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari di dalam kelas atau topik khusus yang akan mereka diskusikan di kelas. Contoh : guru menetapkan tugas bagi kelas untuk diskusi/membahas tentang “Ciri-ciri Orang yang mencintai Al-Qur’an dan Rasulullah SAW.” dengan membagikan kartu indeks guru meminta siswa menulis sebuah pertanyaan tentang masalah seputar topik yang perlu dibahas. Pertanyaan tersebut dikumpulkan kepada guru, kemudian dibagikan lagi kepada siswa untuk direspons.
2. Kumpulkan kartu, kocok dan bagikan satu pada setiap siswa. Mintalah siswa membaca diam-diam pertanyaan atau topik pada kartu dan pikirkan satu jawaban.
3. Panggilah sukarelawan yang akan membaca dengan keras kartu yang mereka peroleh dan memberi jawaban.
4. Setelah diberi jawaban, mintalah siswa lain di dalam kelas untuk menambahkan apa yang telah disumbang sukarelawan.
5. Lanjutkan selama masih ada sukarelawan.

Variasi
a.     Pegang kartu yang Anda kumpulkan, bentuklah sebuah panel responsden. Baca setiap kartu dan ajaklah diskusi. Putarlah anggota panel secara berkala.
b.     Mintalah siswa menulis sebuah opini atau observasi yang mereka miliki pada kartu tentang materi pelajaran. Mintalah peserta lain setuju atau tidak dengan opini atau observasi tersebut.

3. Team Quiz (Menguji Tim)
Teknik ini meningkatkan kemampuan tanggung jawab siswa terhadap apa yang mereka pelajari melalui cara yang menyenangkan dan tidak menakutkan.
Sebagai contoh, Teknik ini bisa digunakan untuk membahas “Isi Kandungan Ayat/Surat Pendek al-Qur’an, penerapan isi kandungan ayat, atau hukum tajwid”  

Langkah-langkah:
  1. Pilihlah topik yang dapat dipresentasikan dalam tiga bagian.
  2. Bagilah siswa menjadi 3 tim.
  3. Jelaskan bentuk sesinya dan mulailah presentasi. Batasi presentasi sampai 10 menit atau kurang.
  4. Minta tim A sebagai pemimpin kuis, untuk menyiapkan kuis yang berjawaban singkat. Kuis ini tidak memakan waktu lebih dari 5 menit untuk persiapan. Tim B dan C memanfaatkan waktu untuk meninjau catatan mereka.
  5. Tim A menguji anggota tim B. Jika Tim B tidak bisa menjawab, Tim C diberi kesempatan untuk menjawabnya.
  6. Tim A melanjutkan ke pertanyaan selanjutnya kepada anggota Tim C, dan ulangi prosesnya.
  7. Ketika kuis selesai, lanjutkan dengan bagian kedua pelajaran Anda, dan tunjuklah Tim B sebagai pemimpin kuis.
  8. Setelah Tim B menyelesaikan ujian tersebut, lanjutkan dengan bagian ketiga dan tentukan tim C sebagai pemimpin kuis.
         
Variasi:
  1. Berikan kesempatan kepada tim ini untuk menyiapkan pertanyaan kuis dari yang mereka seleksi ketika mereka menjadi pemimpin kuis.
  2. Lakukan satu pelajaran yang berkelanjutan. Bagilah siswa ke dalam dua tim. Di akhir pelajaran, biarkan kedua tim saling memberi kuis satu sama lain.

4. Poster Session (Membahas Poster)
merupakan Metode presentasi alternatif ini merupakan sebuah cara yang tepat untuk menginformasikan kepada siswa secara cepat, menangkap imajinasi mereka, dan mengundang pertukaran ide di antara mereka. Teknik ini juga sebuah cara cerita dan grafik yang memungkinkan siswa mengekspresikan persepsi dan perasaan mereka tentang topik yang sekarang sedang dibahas.

Langkah-langkah:
1. Mintalah setiap siswa menyeleksi sebuah topik yang dikaitkan dengan topik umum atau yang sedang dipelajari. Misalnya:
·         Isi kandungan atau penerapan QS. Al-Takatsur: ”Sikap Serakah, Penimbun Harta”.
·         Isi kandungan QS. Al-Qari’ah dan al-Zalzalah: ”Kiamat, Hari Akhir”
2. Mintalah siswa mempersiapkan gambaran visual konsep mereka pada sebuah poster atau papan pengumuman (Anda tentukan ukurannya). Isi poster tersebut harus jelas, agar pengamat dapat dengan mudah memahami tanpa penjelasan tertulis atau lisan. Akan tetapi, siswa boleh saja memilih mempersiapkan satu halaman hand-out untuk mendampingi poster yang menerangkan lebih detil dan menayangkan bacaan lanjut.
3. Selama sesi kelas berlangsung, mintalah siswa memasang gambaran presentasi, dan dengan bebas berkeliling di ruangan memandang serta mendiskusikan poster yang lain.
Salah satu peserta menggambarkan akibat mengkonsumsi makanan/minuman haram dengan membuat poster yang menunjukkan gambaran berikut, misalnya :
o   Seseorang yang memiliki badan dengan perut buncit
o   Orang-orang bingung mencari perlindungan dari kemurkaan alam.
o   Tanda-tanda kiamat.
Di bawah masing-masing gambar di atas ada satu paragraf singkat yang menjelaskan bagaimana dan mengapa seseorang yang mengkonsumsi makanan/minuman haram bisa menunjukkan gejala atau terlibat dalam perkara yang digambarkan dalam poster.
4. Lima belas menit sebelum kelas selesai, berundinglah dengan seluruh kelas dan diskusikan keuntungan apa yang mereka peroleh dari kegiatan ini.
Variasi:
  1. Anda boleh memilih untuk membentuk tim ke dalam 2 atau 3 bentuk daripada membuat tugas individual, terutama jika topiknya terbatas.
  2. Lanjutkan sesi gambar dengan diskusi panel dengan menggunakan beberapa peraga sebagai panelis.

5. Information Search (Pencarian Informasi)
Metode ini sama dengan ujian open book. Tim mencari informasi (normalnya dilakukan dalam pelajaran dengan metode ceramah) untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Metode ini khususnya sangat membantu dalam materi yang membosankan. Misal: ”Beriman kepada Zat dan Af’al Allah melalui Telaah QS. Al-Fatihah dan Al-Nas”.

Langkah-langkah:
1. Buatlah kelompok pertanyaan yang bisa dijawab dengan cara mencari informasi yang dapat dijumpai di sumber materi yang telah Anda buat untuk siswa. Sumber informasi bisa mencakup :
o   Selebaran
o   Dokumen
o   Buku teks
o   Buku panduan
o   Komputer mengakses informasi
2. Berilah pertanyaan-pertanyaan tentang topik
3. Biarkan siswa mencari informasi dalam tim kecil.
    Persaingan sehat bisa membantu untuk mendorong partisipasi.
4. Tinjau kembali jawaban selagi di kelas. Kembangkan jawaban untuk memperluas jangkauan belajar.
Variasi:
  1. Buatlah pertanyaan yang memaksa siswa untuk menyimpulkan jawaban dari sumber informasi yang ada, daripada menggunakan pertanyaan yang bisa langsung dengan pencarian.
  2. Daripada mencari jawaban pertanyaan, berilah siswa tugas yang berbeda seperti satu kasus untuk dipecahkan, latihan yang bisa mencocokkan butir-butir soal, atau menyusun acak kata. Jika tidak diacak, tunjukkan istilah penting yang terdapat pada sumber informasi.

6. Index Card Match / Make a Match (Mencocokkan Kartu Indeks)
Ini adalah cara menyenangkan lagi aktif untuk meninjau ulang materi pelajaran lalu. Ia membolehkan siswa untuk berpasangan dan memainkan kuis dengan kawan sekelas.

langkah-langkah:
1.  Pada kartu indeks terpisah, tulislah pertanyaan tentang apa pun yang diajarkan di dalam kelas. Buatlah kartu pertanyaan yang cukup untuk menyamai setengah jumlah siswa.
2.  Pada kartu terpisah, tulislah jawaban bagi setiap pertanyaan-pertanyaan tersebut.
3.  Campurlah dua kelompok lembar kartu indeks dan kocok beberapa kali sampai benar-benar tercampur.
4. Berikan satu kartu kepada setiap siswa. Jelaskan bahwa ini adalah latihan permainan. Sebagian memegang pertanyaan review dan sebagian lain memegang jawaban.
5.  Perintahkan kepada siswa untuk menemukan kartu indeks permainannya. Ketika permainan dibentuk, perintahkan siswa yang bermain untuk mencari tempat duduk bersama (beritahu mereka jangan menyatakan kepada siswa lain apa yang ada pada kartunya).
6.  Ketika semua pasangan permainan telah menempati tempatnya, perintahkan setiap pasangan menguji siswa yang lain dengan membaca keras pertanyaannya dan menantang teman sekelas untuk menginformasikan jawaban kepadanya.

Variasi:
a.       Kembangkan kartu yang memuat kalimat dengan kata yang hilang yang harus dijodohkan dengan kartu yang memuat kata yang hilang. Misalnya, ”Inna nahnu nazzalna l-zhikra wa inna lahu lahafidhun... ______dalil yang menunjukkan orisinalitas al-Qur’an.
b.      Kembangkan kartu yang memuat pertanyaan dengan beberapa kemungkinan jawaban, misalnya, ”termasuk sifat jaiz bagi Allah ?” _____... Jodohkanlah semua kartu tersebut dengan kartu yang memuat bermacam-macam jawaban yang sesuai. Ketika setiap pasangan menyampaikan kuis kelompok, mintalah mereka mendapatkan beberapa jawaban dari siswa lain.

7.  Explisit Instruction (Pengajaran Langsung)
Pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah. Contoh: “Adab bertamu, adab menerima tamu, bertayamum, urusan janazah, al-Qur’an/tajwid.

Langkah-langkah:
  1. Menyampaikan tujuan belajar dan mempersiapkan siswa.
  2. Mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan.
  3. Membimbing pelatihan.
  4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
  5. Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan

8. Card Sort (Memilah dan Memilih Kartu)
Ini merupakan kegiatan kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, penggolongan sifat, fakta tentang suatu obyek, atau mengulangi informasi. Gerakan fisik yang diutamakan dapat membantu untuk memberi energi kepada kelas yang telah letih.

Langkah-langkah:
1. Berilah masing-masing siswa kartu indeks yang berisi informasi atau contoh yang cocok dengan satu kategori atau lebih. Pada pembelajaran PAI kategori ini bisa digunakan untuk aspek:
  • Akidah; contoh: Iman kepada Allah melalui sifat-sifatnya; kategori: ●sifat nafsiyah, ● sifat salbiyah, ● sifat ma’ani.
  • Al-Qur’an/tajwid;        contoh: ”Hukum Nun Sukun/Tanwin dalam Membaca al-Qur’an; kategori: ●Izdhar, ●Idgham, Iqlab, ●Ikhfa’. 
2. Mintalah siswa untuk berusaha mencari temannya di ruang kelas dan menemukan orang yang memiliki kartu indeks dengan kategori sama. (Anda bisa mengumumkan kategori tersebut sebelumnya atau biarkan peserta mencarinya).
3. Biarkan siswa dengan kartu kategorinya yang sama menyajikan sendiri kepada orang lain, dengan cara menempelkan kartu indeks di tempat yang tersedia (papan tulis).
4. Selagi masing-masing kategori dipresentasikan, buatlah beberapa poin mengajar yang Anda rasa penting.

Variasi:
  1. Mintalah setiap kelompok untuk membuat presentasi mengajar tentang kategori tersebut.
  2. Pada awal kegiatan, bentuklah tim. Berilah masing-masing tim satu set kartu yang lengkap. Pastikan kartu tersebut dikocok dahulu, sehingga kartu kategori yang mereka sortir tidak jelas. Mintalah setiap tim untuk menyortir kartu ke dalam kategori. Setiap tim bisa memperoleh nilai untuk nomor kartu yang disortir dengan benar.

9. Talking Stick
         
Model strategi ini melatih siswa belajar dengan memfungsikan pendengaran dan pemikiran untuk berkonsentrasi, cermat dan cepat menangkap informasi. Pada taraf tertentu, bisa juga dikembangkan untuk melatih berfikir analogis.  Dengan Model ini seluruh siswa dalam kelas bisa terlibat aktif.  Misal: untuk materi Iman  Kepada Kitab Allah, Kemu’jizatan al-Qur’an, sejarah Rasulullah Saw.

Langkah-langkah:
  1. Guru menyiapkan sebuah tongkat
  2. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi.
  3. Setelah selesai mempelajari materi materi/buku pelajaran, siswa menutup bukunya.
  4. Guru mengambil tongkat dan menyampaikan pertanyaan kepada seluruh siswa, lalu menyerahkan tongkat kepada salah seorang siswa yang ditunjuk.
  5. siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, setelah itu dia mengajukan pertanyaan untuk dijawab teman yang menerima tongkat darinya.
  6. demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru atau dari temannya.
  7. Guru memberikan kesimpulan dan penguatan.
  8. Penutup.


10. Billboard Ranking

Banyak materi pelajaran yang tidak mengandung muatan  benar atau salah. Ketika ada nilai-nilai, opini, ide, kecenderungan tentang topik yang diajarkan guru. Model aktivitas belajar ini dapat digunakan untuk menstimulasi berfikir analisis dan diskusi, berkooperasi, mengembangkan apresiasi dan internalisasi nilai (afeksi). Misalnya pembahasan topik tentang:
o   hikmah zakat dan puasa,
o   Kerugian bagi orang mukmin yang enggan salat.
o   bahaya khamr (minuman keras/yang memabukkan),
o   tanda-tanda beriman kepada qada’-qadar (takdir Allah),
o   cara membagikan zakat fithrah dalam sebuah kepanitiaan,
o   ciri-ciri tasamuh (antar umat beragama) dalam masyarakat; 
memungkinkan siswa dapat menambah dan mengurangi poin-poin penjelasannya.

Langkah-langkah:
1.      siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing beranggotalkan 4 sampai 6 orang.
2.      berikan kepada kelompok daftar yang sama; misalnya tentang topik-topik seperti tersebut di atas (pilih salah satu):
o   hikmah puasa atau hikmah zakat; dll.
3.      berikan setiap kelompok kertas “post it” mintalah mereka untuk mendiskusikan kemudian menuliskan tiap butir ide dalam daftar itu pada lembar terpisah (post it).
4.      berikutnya minta setiap kelompok untuk memilah-milah lembaran-lembaran post it sehingga poin-poin terpenting yang mereka pilih diletakkan pada posisi puncak, dan sisanya ada pada urutan berikutnya secara beranking.
5.      buatlah papan pengumuman, tempat setiap kelompok memajang pilihan urutan ranking bahasannya. (CATATAN: lembar post it dapat dipindahkan ke papan tulis, flipchart, atau kertas plano).
6.      bandingkan dan bedakan perankingan yang telah dipajang, kemudian berikan penilaian.

Variasi:
  1. Upayakan untuk mencapai konsensus seluruh siswa.
  2. Mintalah siswa untuk mewawancarai anggota kelompok yang peringkatnya berbeda dengan peringkat mereka.

11. The Power of Two
Model pembelajaran ini didasarkan pada prinsip “dua kepala lebih baik dari satu kepala”—hasil pemikiran bersama akan lebih sempurna daripada hasil pemikiran seorang diri. Siswa dilatih berfikir kritis dan menyampaikan gagasan/pendapat secara lisan. Dalam prosesnya, guru sebagai fasilitator dituntut cermat mengidentifikasi dan menyimpulkan pendapat para siswa.

Langkah-langkah:
  1. Guru menyampaikan inti materi dan tujuan/kompetensi yang ingin dicapai
  2. Siswa diminta untuk berfikir tentang materi/ permasalahan yang disampaikan guru.
  3. Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing.
  4. Guru memimpin pleno kecil, setiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya.
  5. Berawal dari kegiatan tersebut, Guru mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan oleh siswa.
  6. Guru memberi kesimpulan.
  7. Penutup


12. Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis  (STEVEN & SLAVIN,
        1995)

Langkah-langkah:
  1. Siswa dibentuk dalam beberapa kelompok yang anggotanya berjumlah 4 orang, secara heterogen.
  2. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran, lemudian menyampaikan tujuan dan langkah-langkah pembelajarannya.
  3. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping, kemudian ditulis pada lembar kertas
  4. Siswa mempresentasikan/membacakan hasil kelompok
  5. Guru membuat kesimpulan bersama
  6. Penutup

Variasi:
Membaca dan menulis, di sini bisa digunakan untuk mentashih bacaan siswa, salah seorang membaca yang lain menyimak, mencatat bacaan yang salah, dan membetulkannya.


Daftar Kepustakaan

  1. Abd. Gafur, Disain Instruksional,  Solo: Tiga Serangkai, 1989
  2. Ahmad Sabri,  Strategi Belajar-Mengajar dan Micro Teaching, Jakarta: Quantum Teaching, 2005
  3. Anita E. Woolfolk, Educational Psychology, Boston: Allyn & Bacon, 1998.
  4. Don Hamachek, Psychology in Teaching, Learning and Growth, Boston: Allyn & Bacon,  1990.
  5. Hisam Zaini, dkk., Strategi Pembelajaran Aktif,  Yogyakarta: CTSD, 2002
  6. Martinis Yamin, Strategi pembelajaran Berbasis Kompetensi, Ciputat: gaung Persada Press, 2005.
  7. S. Nasution, Asas-asas Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, 1995
  8. S. Nasution, Beberapa Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar,  Jakarta: Bumi Aksara, 2000.
  9. Ahmad Zayadi dan Abdul Majid, Tadzkirah Pembelajaran PAI  Berdasarkan Pendekatan  Kontekstual, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004.
  10. Akhmad Sudrajat, Teori Belajar, Sabtu, Februari 2nd, 2008 at 06:23 in psikologi pendidikan
  11. BSNP, Standar Kompetensi KTSP 2006









[1] Adaptasi dari Tujuan Pendidikan Agama Islam dari BSNP, KTSP 2006—Standar Kompetensi & Kompetensi Dasar. :
[2]Abd. Gafur, Disain Instruksional,  (Solo: Tiga Serangkai, 1989); S. Nasution, Asas-asas Kurikulum, (Jakarta : Bumi Aksara, 1995). Ernest R. Hilgard;  “learning is the process, by which an activity originates or is changed through training procedures (whether in the laboratory on in the natural environment) as distinguishe from changes by factors not atributable to training”.


[3] Ahmad Zayadi &Abdul Majid, Tazkirah Pembelajaran PAI Berdasarkan Pendekatan Kontekstual,  (Jakarta: Rajawali Pres, 2005) .  baca:  H. Endin Nasrudin, Psikologi Pembelajaran, (Ssukabumi: STAI Sukabumi Publishing, 2008), h. 54-56.

0 Response to "ANALISIS STRATEGI PEMBELAJARAN PENERAPANNYA DALAM MODEL PEMBELAJARAN PAI"

Poskan Komentar

BAHTSUL MASAIL

More on this category »

AMALAN

More on this category »

WEJANGAN

More on this category »