Makalah Tindak Tutur

Makalah Tindak Tutur - Pada kesempatan kali ini blog jagad kawula akan membagi makalah tindak tutur. Berikut makalahnya

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Dalam studi sosiolinguistik telah seringkali dijelaskan, bahwa bahasa merupakan sebuah sistem, artinya bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Di sisi lain bahasa juga bersifat dinamis, maksudnya, bahasa itu tidak terlepas dari berbagai kemungkinan perubahan yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Perubahan itu dapat terjadi pada tataran apa saja: fonologis, morfologis, sintaksis, semantik, dan leksikon. Bahasa juga merupakan alat interaksi sosial atau alat komunikasi manusia. Dalam konteks yang terakhir ini, diakui bahwa manusia dapat juga menggunakan alat lain untuk berkomunikasi, tetapi tampaknya bahasa merupakan alat komunikasi yang paling baik di antara alat-alat komunikasi lainnya. Apalagi bila dibandingkan dengan alat komunikasi yang digunakan makhluk sosial lain, yakni hewan. Dalam setiap komunikasi manusia saling menyampaikan informasi yang dapat berupa pikiran, gagasan, maksud, perasaan, maupun emosi secara langsung. Maka, dalam setiap proses komunikasi ini terjadilah apa yang disebut “peristiwa tutur” dan “tindak tutur” dalam satu “situasi tutur”.[1]
B.  Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka pada tulisan ini kami merumuskan beberapa masalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud peristiwa tutur dan tindak tutur?
C.  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui teori-teori tentang peristiwa tutur dan tindak tutur.
BAB II
PEMBAHASAN
A.  Peristiwa Tutur
Yang dimaksud dengan peristiwa tutur (inggris: speech event) adalah terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak, yaitu penutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, di dalam waktu, tempat, dan situasi tertentu. Jadi, interaksi yang berlangsung antara seorang pedagang dan pembeli di pasar pada waktu tertentu dengan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasinya adalah sebuah peristiwa tutur. Peristiwa serupa kita dapati pula dalam acara diskusi di ruang kuliah, rapat dinas di kantor, sidang di pengadilan, dan sebagainya.[2]
Sebuah percakapan dapat disebut sebagai sebuah peristiwa tutur kalau memenuhi beberapa persyaratan. Del Hymes (1972), seorang pakar linguistik terkenal menjelaskan, bahwa suatu peristiwa tutur harus memenuhi delapan komponen, yang apabila huruf-huruf pertamannya dirangkaikan menjadi akronim SPEAKING. Kedelapan komponen tersebut adalah:
S (= Setting and scene)
P (=Participants)
E (= Ends : Purpose and goal)
A (= Act sequences)
K (= Key : tone or spirit of act)
I (= Instrumentalities)
N (=Norms of Interaction and interpretation)
G (= Gennres)[3]
Setting and scene. Di sini setting berkenaan dengan waktu dan tempat tutur berlangsung, sedangkan scene mengacu pada situasi tempat dan waktu, atau situasi psikologis pembicaraan. Waktu, tempat, dan situasi tuturan yang berbeda dapat menyebabkan penggunaan variasi bahasa yang berbeda. Berbicara di lapangan sepak bola pada waktu ada pertandingan sepak bola dalam situasi ramai tentu berbeda dengan pembicaraan di ruang perpustakaan pada waktu banyak orang membaca dan dalam keadaan sunyi. Di lapangan sepak bola kita bisa berbicara keras-keras, tapi di ruang perpustakaan harus seperlahan mungkin.[4]
Participants adalah pihak-pihak yang terlibat dalam pertuturan, bisa pembicara dan pendengar, penyapa dan pesapa, atau pengirim dan penerima pesan. Dua orang yang bercakap-cakap dapat berganti peran sebagai pembicara atau pendengar, tetapi dalam khutbah di masjid, khotib sebagai pembicara dan jamaah sebagai pendengar tidak dapat bertukar peran. Status sosial partisipan sangat menentukan ragam bahasa yang digunakan. Misalnya, seorang anak akan menggunakan ragam atau gaya bahasa yang berbeda bila berbicara dengan orang tuanya atau gurunya bila dibandingan kalau dia berbicara terhadap teman-teman sebayannya.[5]
Ends, merujuk pada maksud dan tujuan pertuturan. Peristiwa tutur yang terjadi di ruang pengadilan bermaksud untuk menyelesaikan suatu kasus perkara, namun, para partisipan di dalam peristiwa tutur itu mempunyai tujuan yang berbeda. Jaksa ingin membuktikan kesalahan si terdakwa, pembela berusaha membuktikan bahwa si terdakwa tidak bersalah, sedangkan hakim berusaha memberikan keputusan dengan adil. [6]
Act sequence, mengacu pada bentuk ujaran dan isi ujaran. Bentuk ujaran ii berkenaan dengan kata-kata yang digunakan, bagaimana penggunaannya dan hubungan antara apa yang dikatakan dengan topik pembicaraan. Bentuk ujaran dalam kuliah umum, dalam percakapan biasa, dan dalam pesta adalah berbeda. Begitu pula dengan isi yang dibicarakan.[7]
Key, mengacu pada nada, cara dan semangat di mana suatu pesan disampaian dengan senang hati, dengan serius, dengan singkat, dengan sombong, dengan mengejek, dan sebagainya. Hal ini dapat juga ditunjukkan dengan gerak tubuh dan isyarat.[8]
Instrumentalities, mengacu pada jalur bahasa yang digunakan, seperti jalur lisan, tertulis, melalui telegraf atau telepon. Instrumentalities ini juga mengacu pada kode ujaran yang digunakan, seperti bahasa, dialek, fragam, atau register.[9]
Norm of interaction and interpretation, mengacu pada norma atau aturan dalam berinteraksi. Misalnya, yang berhubungan dengan cara berinterupsi, bertanya, dan sebagainya. Juga mengacu pada norma penafsiran terhadap ujaran dari lawan bicara.[10]
Genre, mengacu pada jenis bentuk penyampaian, seperti narasi, puisi, pepatah, doa dan sebagainya.[11]
B.  Sejarah Tindak Tutur
Bahasa dalam keadaannya yang abstar (karena berada di dalam benak) tidak bisa langsung dicapai oleh pengamat tanpa melalui medium buatan seperti kamus dan buku tata bahasa. Menurut pengalaman nyata, bahasa itu selalu muncul dalam bentuk tindakan atau tingkah tutur individual. Karena itu tiap telaah struktur bahasa harus dimulai dari pengkajian tindak tutur. Wujudnya ialah bahasa lisan.[12]
Peristiwa tutur merupakan peristiwa sosial karena menyangkut pihak-pihak yang bertutur dalam satu situasi dan tempat tertentu. Peristiwa tutur ini pada dasarnya merupakan rangkaian dari sejumlah tindak tutur (inggris: speech act) yang terorganisasikan untuk mencapai suatu tujuan. Kalau peristiwa tutur merupakan gejala sosial seperti disebut di atas, maka tindak tutur merupakan gejala individual, bersifat psikologis, dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Kalau dalam peristiwa tutur lebih dilihat pada tujuan peristiwannya, tetapi dalam tindak tutur lebih dilihat pada makna atau arti tindakan dalam tuturannya. Tindak tutur dan peristiwa tutur merupakan dua gejala yang terdapat pada satu proses, yakni proses komunikasi.[13]
Istilah dan teori mengenai tindak tutur mula-mula diperkenalkan oleh J.L. Austin, seorang guru besar di Universitas Harvard, pada tahun 1956. Teori yang berasal dari materi kuliah itu kemudian dibukukan oleh J.O. Urmson (1965) dengan judul How to do Thing with Word ? tetapi teori tersebut baru menjadi terkenal dalam studi linguistik setelah Searle (1969) menerbitkan buku berjudul Speech Act and Essay in The Philosophy of Language.[14]
Pada awalnya ide Austin dalam How to Do Things with Words (1962) membedakan tuturan deskriptif menjadi dua yaitu konstatif dan performatif. Saat itu Austin berpendapat bahwa tuturan konstatif dapat dievaluasi dari segi benar-salah yang tradisional (dengan menggunkan pengetahuan tentang dunia), sedangkan performatif tidak dievaluasi sebagai benar-salah yang tradisional tetapi sebagai tepat atau tidak tepat (dengan prinsip kesahihan). Austin mengemukakan adanya empat syarat kesahihan, yaitu: (1) harus ada prosedur konvensional yang mempunyai efek konvensional dan prosedur itu harus mencakupi pengujaran kata-kata tertentu oleh orang-orang tertentu pada peristiwa tertentu, (2) orang-orang dan peristiwa tertentu di dalam kasus tertentu harus berkelayakan atau yang patut melaksanakan prosedur itu, (3) prosedur itu harus dilaksanakan oleh para peserta secara benar, dan (4) prosedur itu harus dilaksanakan oleh para peserta secara lengkap.[15]
Menurut Austin semua tuturan adalah performatif dalam arti bahwa semua tuturan merupakan sebuah bentuk tindakan dan tidak sekadar mengatakan sesuatu. Kemudian Austin ke pemikiran berikutnya yaitu, Austin membedakan antara tindak lokusi (tindak ini kurang-lebih dapat disamakan dengan sebuah tuturan kalimat yang mengandung makna dan acuan) dengan tindak ilokusi (tuturan yang mempunyai daya konvensional tertentu). Kemudian Austin melengkapi kategori-kategori ini dengan menambah kategori ‘tindak perlokusi’ (tindak yang mengacu pada apa yang kita hasilkan atau kita capai dengan mengatakan sesuatu). Namun ide yang mendorong Austin untuk kemudian membuat klasifikasi mengenai tindak-tindak ilokusi ialah asumsinya bahwa performatif merupakan batu ujian yang eksplisit buat semua ilokusi.[16]
Ketika Searle mengemukakan klasifikasi yang serupa dalam ‘A Taxonomy of Illocutionary Acts’, ia sengaja memisahkan diri dari asumsi Austin tadi, yaitu yang mengatakan bahwa terdapat kesepadanan antara verba dan tindak ujar. Searle berpendapat bahwa: ‘perbedaan-perbedaan yang ada antara verba-verba ilokusi merupakan pedoman yang baik tetapi sama sekali bukan pedoman yang pasti untuk membedakan tindak-tindak ilokusi’ (defferences in illocutionary verb are a good guide, but by no means a sure guide to defferences in illocutionary acts).  Walaupun begitu, cukup jelas bahwa dasar pemikiran Searle ini bertolak dari verba ilokusi. Kita memang harus mengakui taksonomi Searle lebih berhasil dan lebih sistematis daripada taksonomi Austin, namun kita dapat mengamati bahwa Searle pun lagi-lagi menyebut performatif eksplisit yang terdapat pada masing-masing kategori ini. Searle tidak berusaha mengemukakan dasar-dasar prosedurnya ini, tetapi menerima begitu saja. Ia bertolak dari prinsip keekspresifan (principle of expressibility), yang menyatakan bahwa apapun yang mempunyai makna dapat diucapkan. Prinsip ini juga digunakannya dalam Speech Acts yang menjelaskan tindak tutur merupakan entitas yang bersifat sentral dalam pragmatik. Prinsip keekspresifan ini memang merupakan tesis yang sangat memudahkan dan membantu penjelasan kita, terutama bila kita ingin menunjukkan bahwa dengan membubuhkan awalan performatif yang sesuai, daya ilokusi tuturan selalu dapat dibuat lebih jelas.[17]
Dalam aspek-aspek lain Searle tampaknya mengandalkan pada kekeliruan performatif, walaupun ia membenarkan bahwa daya ilokusi dapat diungkapkan dengan penanda daya ilokusi (illocutionary-force indicating device), baik dengan intonasi, tanda baca, dan sebagainya, maupun dengan verbal performatif. Searle juga mengakui bahwa terdapat ketidakjelasan  yang sangat besar (enormous unclearity) dalam penggolongan tuturan-tuturan ke dalam kategori-kategori ilokusi. Namun ia tetap mempertahankan pendapatnya bahwa ‘bila kita menggunakan titik ilokusi sebagai pengertian dasar bagi klasifikasi penggunaan bahasa, itu berarti kita melakukan sejumlah hal dasar dengan bahasa.[18]
Selanjutnya Searle secara lebih operasional merinci syarat kesahihan untuk tindak tutur menjadi lima, yaitu: (1) penutur mestilah bermaksud memenuhi apa yang ia janjikan, (2) penutur harus berkeyakinan bahwa lawan tutur percaya bahwa tindakan yang dijanjikan menguntungkan pendengar, (3) penutur harus berkeyakinan bahwa ia mampu memenuhi janji itu, (4) penutur mestilah memprediksi tindakan yang akan dilakukan pada prediksi tindakan yang akan dilakukan pada masa yang akan datang, (5) penutur harus mampu memprediksi tindakan yang akan dilakukan oleh dirinya sendiri.[19]
Sejauh ini alasan-alasan Leech untuk menentang tesis kekeliruan Verba-Ilokusi bersifat deskriptif: mengkotak-kotakkan tindak ujar ke dalam kategori-kategori tertentu seperti yang dilakukan oleh kekeliruan verba ilokusi terlalu mengatur rentangan potensi komunikatif manusia, dan ini tidak dapat di benarkan kalau hanya berdasarkan pengamatan saja. Dalam hal perilaku percakapan manusia dan pengalaman-pengalaman lain, bahasa kita menyediakan sejumlah kosakata yang menandakan adanya perbedaan-perbedaan kategorikal. Perhatian Austin dan Searle pada performatif secara implisit memengaruhi mereka untuk berasumsi bahwa analisis yang teliti mengenai makna verbal-ilokusi dapat membawa ke pemahaman daya ilokusi.[20]
C.  Teori Tindak Tutur
Pembedaan-pembedaan yang dibuat oleh Austin, Searle dan lain-lainya dalam mengklasifikasi tindak tutur akan sangat berguna bila kita mengkaji verba tindak tutur. Pernyataan ini didasarkan atas fakta bahwa sebetulnya filsuf-filsuf tindak tutur cenderung memusatkan perhatian mereka pada makna verba tindak tutur, walaupun kelihatannya mereka seakan-akan mengkaji tindak tutur. Tambahan lagi, tanpa bersikap terlalu teoretis (doktriner) dapat diasumsikan bahwa ada kemungkinan terdapat kesamaan antara berbagai perbedaan yang penting bagi analisis verba tindak tutur dengan berbagai perbedaan yang penting untuk perilaku tindak tutur yang diperikan oleh verba-verba tindak tutur.[21]
Sebaliknya, kita akan sangat anti-Worf bila kita mengansumsikan bahwa verba-verba yang disediakan oleh bahasa untuk membahas perilaku komunikatif mengandung perbedaan-perbedaan yang tidak signifikan buat perilaku sendiri; dan asumsi ini juga tidak didukung oleh teori fungsional. Tetapi ada satu perbedaan besar antara pembicaraan tentang tindak tutur dengan pembicaraan tentang verba tindak tutur, yaitu perbedaan-perbedaan yang ada pada tindak tutur bersifat nonkategorikal, sedangkan pada verba tindak tutur perbedaannya bersifat kategorikal. Searle mengatakan bahwa ‘perbedaan-perbedaan di antara verba-verba ilokus merupakan petunjuk yang baik tetapi sama sekali bukan petunjuk yang pasti akan mengetahui perbedaan-perbedaan yang ada antara tindak-tindak ilokus’. Perbedaan yang lain adalah bila kita membahas verba tindak tutur, kita harus membatasi diri pada verba-verba tertentu dalam bahasa-bahasa tertentu.
Tindak tutur atau tindak ujar (speech act) merupakan entitas yang bersifat sentral dalam pragmatik sehingga bersifat pokok di dalam pragmatik. Tindak tutur merupakan dasar bagi nanalisis topik-topik pragmatik lain seperti praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerja sama, dan prinsip kesantunan. Kajian pragmatik yang tidak mendasarkan analisisnya pada tindak tutur bukanlah kajian pragmatik dlm arti yang sebenarnya.[22]
Suwito dalam bukunya Sosiolinguistik: Teori dan Problem mengemukakan jika peristiwa tutur (speech event) merupakan gejala sosial dan terdapat interaksi antara penutur dalam situasi dan tempat tertentu, maka tindak tutur lebih cenderung sebagai gejala individual, bersifat psikologis dan ditentukanm oleh kemampuan bahasa penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Jika dalam peristiwa tutur orang menitikberatkan pada tujuan peritiwa, maka dalam tindek tuutr irang lebih memperhatikan makna atau arti tindak dalam tuturan itu.[23]
Dari literatur pragmatik, dapat dijelaskan bahwa tindak tutur adalah tuturan dari seseorang yang bersifat psikologis dan yang dilihat dari makna tindakan dalam tuturannya itu. serangkaian tindak tutur akan membentuk suatu peristiwa tutur (speech event).
Jadi dapat disimpulkan bahwa tindak tutur merupakan suatu ujaran yang mengandung tindakan sebagai suatu fungsional dlm komunikasi yang mempertimbangkan aspek situasi tutur.
Tindak tutur yang dilakukan dalam bentuk kalimat performatif oleh Austin dirumuskan sebagai tiga buah tindakan yang berbeda, yaitu (1) tindak tutur lokusi, (2) tindak tutur ilokusi, dan (3) tindak tutur perlokusi. Apa bedanya ?
Tindak tutur lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu sebagaimana adanya atau The Act of Saying Something tindakan untuk mengatakan sesuatu. Fokus lokusi adalah makna tuturan yang diucapkan, bukan mempermasalahkan maksud atau fungsi tuturan itu. Rohmadi mendefinisikan bahwa lokusi adalah tindak bertutur dengan kata, frasa, dan kalimat sesuai dengan makna yang dikandung oleh kata, frasa, dan kalimat itu. Lokusi dapat dikatakan sebagai the act of saying something. Tindak lokusi merupakan tindakan yang paling mudah diidentifikasi karena dalam pengidentifikasiannya tidak memperhitungkan konteks tuturan.[24] Dengan kata lain, tindak tutur lokusi adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu dalam arti “berkata” atau tindak tutur dalam bentuk kalimat yang bermakna dan dapat dipahami.[25] misalnya:
1.      Jembatan Suramadu menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura
2.      Tahun 2004 gempa dan tsunami melanda Banda Aceh.
Dua kalimat di atas dituturkan oleh seorang penutur semata-mata hanya untuk memberi informasi sesuatu belaka, tanpa tendensi untuk melakukan sesuatu. apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Informasi yang diberikan pada kalimat pertama adalah mengenai jembatan Suramadu yang menghubungkan pulau Jawa dan Pulau Madura. Sedangkan kalimat kedua memberi informasi mengenai gempa dan tsunami yang paada tahun 2004 melanda Banda Aceh. Lalu, apabila disimak baik-baik tampaknya tindak tutur ouksi ini hanya memberi makna secara harfiah, seperti yang dinyatakan dalam kalimatnya.
Tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur yang biasanya diidentifikasikan dengan kalimat performatif yang eksplisit. Bila tata bahasa menganggap bahwa kesatuan-kesatuan statis yang abstrak seperti kalimat-kalimat dalam sintaksis dan proposisi-proposisi dalam semantik, maka pragmatik menganggap tindak-tindak verbal atau performansi-performansi yang berlangsung di dalam situasi-situasi khusus dan waktu tertentu. Pragmatik menganggap bahasa dalam tingkatan yang lebih konkret daripada tata bahasa. Singkatnya, ucapan dianggap sebagai suatu bentuk kegiatan: suatu tindak ujar. Menurut pendapat Austin ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu Ilokusi merupakan tindak tutur yang mengandung maksud dan fungsi atau daya tuturan. Pertanyaan yang diajukan berkenaan dengan tindak ilokusi adalah “untuk apa ujaran itu dilakukan” dan sudah bukan lagi dalam tataran “apa makna tuturan itu?”. Rohmadi mengungkapkan bahwa tindak ilokusi adalah tindak tutur yang berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu dan dipergunakan untuk melakukan sesuatu.[26]
Tindak tutur ilokusi ini biasanya berkenaan dengan pemberian izin, mengucapkan terima kasih, menyuruh, menawarkan, dan menjanjikan.[27] Misalnya:
1.      Sudah hampir pukul tujuh
2.      Ujian nasional sudah dekat
Kalimat pertama bila dituturkan oleh seorang suami kepada istrinya di pagi hari, selain memberi informasi tentang waktu, juga berisi tindakan yaitu mengingatkan si istri bahwa si suami harus segera berangkat ke kantor, jadi minta disediakan sarapan. Oleh karena itu, si istri akan menjawab mungkin seperti kalimat berikut, “Ya Mas! Sebenat lagi sarapan siap.
Tindak tutur perlokusi adalah tindak tutur yang berkenaan dengan adanya ucapan orang lain sehubungan dengan sikap dan perilaku nonlinguistik dari orang lain.[28] Misalnya:
1.      Rumah saya jauh sih
2.      Minggu lalu saya ada keperluan keluarga yang tidak dapat ditinggalkan
Tuturan pada kalimat pertama bukan hanya memberi informasi bahwa rumah si penutur itu jauh, tetapi juga bila dituturkan oleh seorang guru kepada kepala sekolah dalam rapat penyusunan jadwal pelajaran pada wal tahun menyatakan maksud bahwa si penutur tidak dapat datang tepat waktu pada jam pertama. Maka efeknya atau pengaruhnya yang diharapkan si kepala sekolah akan memberi tugas mengajar tidak pada jam-jam pertama, melainkan pada jam-jam lebih siang. Kalimat kedua selain memberi informasi bahwa si penutur pada minggu lalu ada kegiatan di keluarga, juga bila dituturkan pada lawan tutur yang pada minggu lalu mengundang untuk hadir pada resepsi pernikahan, bermaksud juga minta maaf. Lalu, efek yang diharapkan adalah agar si lawan tutur memberi maaf kepada si penutur.
Pencetus teori tindak tutur, Searle membagi tindak tutur menjadi lima kategori:
1.       Representative/asertif, yaitu tuturan yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang diujarkan. Tindak tutur jenis ini juga disebut dengan tindak tutur asertif. Yang termasuk tindak tutur jenis ini adalah tuturan menyatakan, menuntut, mengakui, menunjukkan, melaporkan, memberikan kesaksian, menyebutkan, berspekulasi. Contoh jenis tuturan ini adalah: “Adik selalu unggul di kelasnya”. Tuturan tersebut termasuk tindak tutur representatif sebab berisi informasi yang penuturnya terikat oleh kebenaran isi tuturan tersebut. Penutur bertanggung jawab bahwa tuturan yang diucapkan itu memang fakta dan dapat dibuktikan di lapangan bahwa si adik rajin belajar dan selalu mendapatkan peringkat pertama di kelasnya. Contoh yang lain adalah: “Tim sepak bola andalanku menang telak”, “Bapak gubernur meresmikan gedung baru ini”.
2.       Direktif/impositif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu. Tindak tutur direktif disebut juga dengan tindak tutur impositif. Yang termasuk ke dalam tindak tutur jenis ini antara lain tuturan meminta, mengajak, memaksa, menyarankan, mendesak, menyuruh, menagih, memerintah, mendesak, memohon, menantang, memberi aba-aba. Contohnya adalah “Bantu aku memperbaiki tugas ini”. Contoh tersebut termasuk ke dalam tindak tutur jenis direktif sebab tuturan itu dituturkan dimaksudkan penuturnya agar melakukan tindakan yang sesuai yang disebutkan dalam tuturannya yakni membantu memperbaiki tugas. Indikator dari tuturan direktif adalah adanya suatu tindakan yang dilakukan oleh mitra tutur setelah mendengar tuturan tersebut.
3.       Ekspresif/evaluatif. Tindak tutur ini disebut juga dengan tindak tutur evaluatif. Tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar tuturannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan itu, meliputi tuturan mengucapkan terima kasih, mengeluh, mengucapkan selamat, menyanjung, memuji, meyalahkan, dan mengkritik. Tuturan “Sudah kerja keras mencari uang, tetap saja hasilnya tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga”. Tuturan tersebut merupakan tindak tutur ekspresif mengeluh yang dapat diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang dituturkannya, yaitu usaha mencari uang yang hasilnya selalu tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Contoh tuturan lain adalah “Pertanyaanmu bagus sekali” (memuji), “Gara-gara kecerobohan kamu, kelompok kita didiskualifikasi dari kompetisi ini” (menyalahkan),  “Selamat ya, Bu, anak Anda perempuan” (mengucapkan selamat).
4.       Komisif. Tindak tutur komisif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan segala hal yang disebutkan dalam ujarannya, misalnya bersumpah, berjanji, mengancam, menyatakan kesanggupan, berkaul. Contoh tindak tutur komisif kesanggupan adalah “Saya sanggup melaksanakan amanah ini dengan baik”. Tuturan itu mengikat penuturnya  untuk melaksanakan amanah dengan sebaik-baiknya. Hal ini membawa konsekuensi bagi dirinya untuk memenuhi apa yang telah dituturkannya. Cotoh tuturan yang lain adalah “Besok saya akan datang ke pameran lukisan Anda”, “Jika sore nanti hujan, aku tidak jadi berangkat ke Solo”.
5.       Deklarasi/establisif/isbati, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk menciptakan hal (status, keadaan, dsb) yang baru. Tindak tutur ini disebut juga dengan istilah isbati. Yang termasuk ke dalam jenis tuutran ini adalah tuturan dengan maksud mengesankan, memutuskan, membatalkan, melarang, mengabulkan, mengizinkan, menggolongkan, mengangkat, mengampuni, memaafkan. Tindak tutur deklarasi dapat dilihat dari contoh berikut ini.
·      “Ibu tidak jadi membelikan adik mainan.” (membatalkan)
·       “Bapak memaafkan kesalahanmu.” (memaafkan)
·       “Saya memutuskan untuk mengajar di SMA almamater saya.” (memutuskan).[29]
Tindak tutur juga dibedakan menjadi dua yaitu tindak tutur langsung dan tindak tutur tidak langsung. Penggunaan tuturan secara konvensional menandai kelangsungan suatu tindak tutur langsung. Tuturan deklaratif, tuturan interogatif, dan tuturan imperatif secara konvensional dituturkan untuk menyatakan suatu informasi, menanyakan sesuatu, dan memerintahkan mitra tutur melakukan sesuatu. Kesesuaian antara modus dan fungsinya secara konvensional inilah yang yang merupakan tindak tutur langsung. Sebaliknya, jika tututan deklaratif digunakan untuk bertanya atau memerintah –atau tuturan yang bermodus lain yang digunakan secara tidak konvensional-, tuturan itu merupakan tindak tutur tidak langsung. Sehubungan dengan kelangsungan dan ketaklangsungan tuturan, tindak tutur juga dibedakan menjadi tindak tutur harfiah (maksud sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya) dan tidak harfiah (maksud tidak sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya). Jika dua jenis tindak tutur, langsung dan taklangsung, digabung dengan dua jenis tindak tutur lain, harfiah dan takharfiah, diperoleh empat macam tindak tutur interseksi, yaitu (1) tindak tutur langsung harfiah, (2) tindak tutur langsung takharfiah, (3) tindak tutur taklangsung harfiah, (4) tindak tutur taklangsung takharfiah.[30]
Menurur Austin (1962), tuturan dibedakan menjadi tuturan konstatif dan tuturan performatif. Tuturan konstatif adalah tuturan yang menyatakan sesuatu yang kebenarannya dapat diuji benar atau salah dengan menggunakan pengetahuan tentang dunia.[31]
Contoh :
1.      “Manuk Dadali adalah lagu daerah Jawa Barat.”
2.       “Dakka ibu kota Bangladesh.”
Tuturan performatif adalah tuturan yang pengutaraanya digunakan intuk melakukan sesuatu.[32]
Contoh :
1.      “Saya berani menjamin Milan akan memenangkan pertandingan malam ini.”
2.      “Saya berjanji akan datang besok.”
Selanjutnya, Searle mengklasifikasikan tuturan ilokusi ke dalam lima jenis tindak tutur, yaitu: tindak tutur asertif yang disebut juga dengan tindak tutur representatif, direktif yang disebut juga dengan tindak tutur impositif, ekspresif yang disebut juga dengan tindak tutur evaluative, komisif, dan isbati yang disebut juga dengan tindak tutur deklarasi.[33]
a.       Tindak tutur Asertif / Representatif. Adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang diujarkannya. Contoh :
1.     “Sebentar lagi rumah itu ambruk terkena angin.”
2.     “Yang datang rapat baru 26 orang.”
b.       Tindak tutur Direktif / Impositif. Adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar mitra tutur melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan  itu.Contoh :
1.    “Tolong tutup pintunya!”
2.     “Lebih baik kamu masuk saja.”
3.     “Berikan data itu sekarang!”
c.        Tindak tutur Ekspresif / Evaluatif. Adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan di dalam tuturan itu. Contoh :
1.     “Pekerjaanmu kurang memuaskan.”
2.    “Suaramu bagus sekali.”
d.       Tindak tutur Komisif . Adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya. Contoh :
1.    ”Besok saya akan tiba tepat waktu.”
2.    “Saya berjanji akan belajar dengan sungguh-sungguh.”
e.        Tindak tutur Isbati / Deklarasi. Adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk menciptakan hal (status, keadaan, dsb) yang baru. Contoh :
1.    “Jangan membuat tugas sembarangan!”
2.    “Dia tidak jadi pergi hari ini.”
D.      Tindak Tutur dan Pragmatik
       Tindak tutur saebenarnya merupakan salah satu fenomena dalam masalah yang lebih luas, yang dikenal dengan  istilah pragmatik. Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Yule, misalnya, menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu.[34]
       Thomas menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian, pertama, dengan menggunakan sudut pandang sosial, menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning); dan kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif, menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). Selanjutnya Thomas (1995: 22), dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik, sosial, dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran, mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction).[35]
       Melalui bukunya, How to Do Things with Words, Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. Sebab, seperti diungkap oleh Marmaridou dalam Gunarwan,[36] sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh, sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik, yaitu pragmatik filosofis (Austin, Searle, dan Grice), pragmatik neo-Gricean (Cole), pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson), dan pragmatik interaktif (Thomas).
       Austin, seperti dikutip oleh Thomas,[37] bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis, seperti Russel dan Moore, yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi, dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. Contoh.
       (1) Ada enam kata dalam kalimat ini
       (2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono
       Dari contoh di atas, dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition), yaitu, sesuai contoh di atas, kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuai dengan kenyataan. Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics.[38]
       Austin dalam Thomas[39] berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya, melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. Melalui hipotesis performatifnya, yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act), Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements), melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition). Contoh.
       (1) Dengan ini, saya nikahkan kalian (performatif)
       (2) Rumah Joni terbakar (konstatif)[40]
       Selanjutnya Austin, seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle, memasukkan ujaran konstatif, karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif, sebagai bagian dari performatif. Dalam contoh (2), struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar.[41]
       Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan, yaitu lokusi (locutionary act), ilokusi (illocutionary act), dan perlokusi (perlocutionary act).[42] Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi ujaran yang bermakna, tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara, dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan.[43] Tindak-tutur, seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle, dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya, sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain.[44]
       Selain itu, Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur, yaitu asertif (assertive), direktif (directive), komisif (comissive), ekspresif (expressive), dan deklarasi (declaration). Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar; direktif merupakan tindak-tutur yang menghendaki pendengarnya melakukan sesuatu; komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya; ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya; dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu.[45]
       Sebuah satuan ujaran dalam tindak tutur dapat dipahami pendengar dengan baik, apabila dieksisnya jelas, presuposisinya diketahui, dan implikatur percakapannya dipahami. Dieksis Deiksis adalah kata atau frasa yang menghunjuk kepada kata, frasa, atau ungkapan yang telah dipakai atau yang akan diberikan.[46] Purwo menjelaskan bahwa sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila referennya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung pada siapa yang menjadi sipembicara dan tergantung pada saat dan tempat dituturkannya kata itu.[47]
       Pengertian deiksis yang lain dikemukakan oleh Lyons dalam Djajasudarma,[48] yang menjelaskan bahwa deiksis adalah lokasi dan identifikasi orang, objek, peristiwa, proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi ruang dan waktunya, pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara. Dari penjelasan di atas disimpulkan bahwa deiksis adalah kata, frasa, atau ungkapan yang rujukannya berpindah-pindah tergantung siapa yang menjadi pembicara dan waktu, dan tempat dituturkannya satuan bahasa tersebut.
       Perhatikan contoh kalimat berikut.
1.      Begitulah isi sms yang dikirimkannya padaku dua hari yang lalu.
2.      Hari ini bayar, besok gratis.
3.      Jika Anda berkenan, di tempat ini Anda dapat menunggu saya dua jam lagi.
       Dari contoh di atas, kata-kata yang dicetak miring dikategorikan sebagai dieksis. Pada kalimat (1) yang dimaksud dengan begitulah tidak bisa diketahui karena uraian berikutnya tidak dijelaskan. Pada kalimat (2) kapan yang dimaksud dengan hari ini dan besok juga tidak jelas, karena kalimat itu terpampang setiap hari di sebuah kafetaria. Pada kalimat (3) kata Anda tidak jelas rujukannya, apakah seorang wanita atau pria, begitu juga frasa di tempat ini lokasinya tidak jelas.
       Semua kata dan frasa yang tidak jelas pada kalimat di atas dapat diketahui jika konteks untuk masing-masing kalimat tersebut disertakan. Dalam berpragmatik kalimat seperti di atas wajar hadir di tengah-tengah pembicaraan karena konteks pembicaraan sudah disepakati antara si pembicara dan lawan bicara.
       Sedangkan presuposisi dalam tindak tutur adalah makna atau informasi “tambahan” yang terdapat dalam ujaran yang digunakan secara tersirat. Perlu dipahami bahwa selain mendapat makna “asal” yang tersirat dalam ujaran, terdapat pula makna lain yang hanya bisa dipahami secara tersirat. Misalnya, “Kerjakan dulu soal yang mudah, baru kemudian yang lebih sukar dan yang sukar”, memiliki presuposisi bahwa soal-soal yang harus dikerjakan ada yang sukar dan ada pula yang mudah.[49]
       Presuposisi terdapat pula dalam kalimat deklaratif dan kalimat interogatif. Misalnya dalam kalimat, “Yang belum lulus ujian linguistik umum tidak boleh mengikuti kuliah sosiolinguistik”. Contoh kalimat ini memiliki presuposisi “ada yang belum lulus ujian linguistik[50]
       Sedangkan Implikatur percakapan adalah implikasi pragmatik yang terdapat di dalam percakapan yang timbul sebagai akibat terjadinya pelanggaran prinsip percakapan. Sejalan dengan batasan tentang implikasi pragmatik, implikatur percakapan itu adalah proposisi atau “pernyataan” implikatif, yaitu apa yang mungkin diartikan, disiratkan atau dimaksudkan oleh penutur, yang berbeda dari apa yang sebenarnya dikatakan oleh penutur di dalam suatu percakapan. Implikatur percakapan terjadi karena adanya kenyataan bahwa sebuah ujaran nyang mempunyai implikasi berupa proposisi yang sebenarnya bukan bagian dari tuturan itu.[51]
       Didalam implikatur, hubungan antara tuturan yang sesungguhnya dengan maksud tertentu yang tidak dituturkan bersifat tidak mutlak.[52] Pembahasan tentang implikatur mencakupi pengembangan teori hubungan antara ekspresi, makna, makna penutur, dan implikasi suatu tuturan. Di dalam teorinya itu, ia membedakan tiga jenis implikatur, yaitu implikatur konvensional, implikatur nonkonvensional, dan praanggapan. Selanjutnya implikatur nonkonvensional dikenal dengan nama implikatur percakapan. Selain ketiga macam implikatur itu, ia pun membedakan dua macam implikatur percakapan, yaitu implikatur pecakapan khusus dan implikatur percakapan umum.[53]
       Implikatur konvensional adalah implikatur yang diperolah langsung dari makna kata, bukan dari prinsip percakapan. Tuturan berikut ini mengandung implikatur konvensional. Contoh:
1.      Lia orang Tegal, karena itu kalau bicara ceplas-ceplos.
2.      Poltak orang Batak, jadi raut mukanya terkesan galak.
       Implikasi tuturan (1) adalah bahwa bicara ceplas-ceplos Lia merupakan konsekuensi karena ia orang Tegal. Jika Lia bukan orang Tegal, tentu tuturan itu tidak berimplikasi bahwa bicara ceplas-ceplos Lia karena ia orang Tegal. Implikasi tuturan (2) adalah bahwa raut muka galak Poltak merupakan konsekuensi karena ia orang Batak. Jika Poltak bukan orang Batak, tentu tuturan itu tidak berimplikasi bahwa raut muka galak Poltak karena ia orang Batak.
       Implikatur nonkonvensional atau implikatur percakapan adalah implikasi pragmatik yang tersirat di dalam suatu percakapan.  Di dalam komunikasi, tuturan selalu menyajikan suatu fungsi pragmatik dan di dalam tuturan percakapan itulah terimplikasi suatu maksud atau tersirat fungsi pragmatik lain yang dinamakan implikatur percakapan. Berikut ini merupakan contoh tuturan di dalam suatu percakapan yang mengandung suatu implikasi percakapan.
       A: ”HP mu baru ya? Mengapa tidak membeli N70 aja?”
       B : ”Ah, harganya terlalu mahal.”
       Implikatur percakapan tuturan itu adalah bahwa HP yang dibeli A murah sedangkan HP N70 harganya lebih mahal daripada HP yang dibeli A.
       Dua dikotomi implikatur percakapan selanjutnya adalah implikatur percakapan umum dan implikasi percakapan khusus.
       Implikatur percakapan khusus adalah implikatur yang kemunculannya memerlukan konteks khusus. Tuturan (1) hanya berimplikasi (2) jika berada di dalam konteks khusus seperti pada percakapan (3) berikut ini.
1.      Langit semakin mendung, sebentar lagi hujan datang.
2.      (Ibu belum pulang dari pasar).
A: Mengapa Ibu belum pulang?
B: Langit semakin mendung, sebentar lagi hujan datang.
       Implikatur percakapan umum adalah implikatur yang kehadirannya di dalam percakapan tidak memerlukan konteks khusus. Implikatur (1) sebagai akibat adanya tuturan (2) merupakan implikatur percakapan umum.
1.      Saya menemukan uang.
2.      (Uang itu bukan milik saya)
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Chaer dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik. Jakarta: Rineka Cipta.
Agustina. 1995. Pragmatik dalam Pengajaran Bahasa Indonesia. Padang: IKIP Padang.
            Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
            Austin, J.L. 1962. How to Do Things with Words. London: Oxford University Press.
Brown, Penelope., dan Stephen C. Levinson. 1978. Politeness: Some Universal in Language Usage. Cambridge: Cambridge University Press.
Djajasudarma, Fatimah. 2010. Semantik 2: Pemahaman Ilmu Makna. Bandung: Refika Aditama.
Eelen, Gino. 2001. A Critique of Politeness Theories. Manchester, UK: St. Jerome Publishing
Gunarwan, Asim. 2004. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). IKIP Singaraja.
Hasanuddin WS, dkk. 2009. Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia. Bandung: Angkasa.
Jaszczolt, K.M. 2002. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse. Edinburgh: Pearson Education.
Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik. Jakarta: UI Press.
Nababan, P.W.J. 1987. Ilmu Pragmatik: Teori dan Penerapannya, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Purwo, Bambang Kaswanti. 1984. Deiksis dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Renkema, Jan. 2004. Introduction to Discourse Studies. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company.
Rohmadi, Muhammad. 2004. Pragmatik: Teori dan Analisis. Yogyakarta: Lingkar Media.
            Rustono. 1999. Pokok-pokok Pragmatik. Semarang: IKIP Semarang Press.
            Tarigan, Henry Guntur. 1986. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa.
Thomas. Jenny. 1995. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics. London/New York: Longman.
Ullmann, Stephen. 2011. Pengantar Semantik, Terj. Sumarsono. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
            Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Yogyakarta.
Yule, George. 1996. Pragmatics. Oxford. Oxford University Press.




[1] Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik: Perkenalan Awal (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm. 47.
[2] Ibid.
[3] Ibid., hlm. 48.
[4] Ibid.
[5] Ibid.
[6] Ibid., hlm. 49.
[7] Ibid.
[8] Ibid.
[9] Ibid.
[10] Ibid.
[11] Ibid.
[12] Stephen Ullmann, Pengantar Semantik, Terj. Sumarsono (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hlm. 13.
[13] Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik, hlm. 50.
[14] Ibid.
[15] J.L. Austin, How to Do Things with Words (London: Oxford University Press, 1962) hlm. 23-36.
[16] Ibid., hlm. 109.
[17] Ibid., hlm. 19-21.
[18] Ibid., hlm. 30
[20] Ibid.
[21] Ibid.
[22] Rustono, Pokok-pokok, hlm. 33.
[23]Muhammad Rohmadi, Pragmatik: Teori dan Analisis. (Yogyakarta: Lingkar Media, 2004), hlm. 30.
[24] Ibid., hlm. 30.
[25] Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik, hlm. 53.
[26] Ibid., hlm.31.
[27] Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik, hlm. 53.
[28] Ibid.
[30] Ibid.
[31] I Dewa Putu Wijana, Dasar-dasar Pragmatik (Yogyakarta: Andi Yogyakarta, 1996), hlm. 23.
[32] Ibid.
[33] Rustono, Pokok-Pokok Pragmatik (Semarang: Semarang Press, 1999), hlm. 39-43.
[34]  George Yule, Pragmatics (Oxford: Oxford University Press, 1996), hlm. 3.
[35] Jenny Thomas, Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics (London/New York: Longman, 1995), hlm. 2.
[36] Asim Gunarwan, Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa, Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, (IKIP Singaraja, 2004), hlm. 8.
[37] Jenny Thomas, Meaning, hlm. 29-30.
[38] Ibid., hlm. 30.
[39] Ibid., hlm. 30.
[40] Asim Gunarwan, Dari, hlm. 8.
[41] Ibid., hlm. 8.
[42] George Yule, Pragmatics, hlm. 48.
[43] Jenny Thomas, Meaning, hlm. 49.
[44] George Yule, Pragmatics, hlm. 49-50.
[45] Ibid., hlm. 53-54.
[46] Agustina, Pragmatik dalam Pengajaran Bahasa Indonesia (Padang: IKIP Padang, 1995), hlm. 40.
[47] Bambang Kaswanti Purwo, Deiksis dalam Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), hlm. 1.
[48] Fatimah Djajasudarma, Semantik 2: Pemahaman Ilmu Makna (Bandung: Refika Aditama, 2010), hlm. 51.
[49] Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik, hlm. 59.
[50] Ibid.
[51] Rustono, Pokok-Pokok Pragmatik (Semarang: IKIP Semarang Press, 1999), hlm. 82.
[52] Kunjana Rahardi, Berkenalan dengan Ilmu Bahasa Pragmatik (Malang: Dioma, 2003), hlm. 85.
[53] Rustono, Pokok-Pokok, hlm. 53.

2 komentar Makalah Tindak Tutur

Hadanah Nasir Pada: 17 April 2014 09:11 permalink

Ok. Thanks... Infox, bisa di "share" yah....

Jagad Kawula Pada: 17 April 2014 17:50 permalink

silakan, tapi tolong cantumkan sumbernya ini ya :)

Post a Comment