Home » » Perpustakaan sebagai media Pembelajaran

Perpustakaan sebagai media Pembelajaran

Written By Jagad Kawula on Rabu, 14 November 2012 | 23.23



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Perpustakaan merupakan sistem informasi yang di dalamnya terdapat aktivitas pengumpulan, pengolahan, pengawetan, pelestarian dan penyajian serta penyebaran informasi. Perpustakaan sebagaimana yang ada dan berkembang sekarang telah dipergunakan sebagai salah satu pusat informasi, sumber ilmu pengetahuan, penelitian, rekreasi, pelestarian khasanah budaya bangsa, serta memberikan berbagai layanan jasa lainnya. Selain itu menurut perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual.
Sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa perpustakaan merupakan tempat tumpukan buku tanpa mengetahui pasti ciri dan fungsi perpustakaan. Ada beberapa ciri yang perlu diketahui oleh masyarakat diantaranya adalah tersedianya koleksi, sarana prasarana, pustakawan dan pengunjung serta adanya suatu unit kerja. Oleh karena itu, faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi tingkat perkembangan perpustakaan, berdasarkan jumlah pengunjung yang datang ke perpustakaan tersebut. Kemajuan perpustakaan sekolah sebagai salah satu tolak ukur keberhasilan prestasi belajar karena perpustakaan sebagai penyedia informasi, khususnya bagi para siswa dalam memenuhi kebutuhan ilmu pengatahuannya.
B.  Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka pada tulisan ini kami merumuskan beberapa masalah sebagai berikut:
1.      apa tujuan dan fungsi perpustakaan ??
2.      sejauh mana perpustakaan berkontribusi dalam penggunaannya sebagai media pembelajaran
C.  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui tujuan, fungsi, dan kontribusi perpustakaan sebagai media pembelajaran.

BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Perpustakaan
Dalam bahasa Indonesia istilah “perpustakaan” dibentuk dari kata dasar pustaka ditambah awalan “per” dan akhiran ”an”. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia perpustakaan diartikan sebagai “kumpulan buku-buku”.[1] Dalam bahasa Inggris disebut “library yang berarti perpustakaan.[2] Dalam bahasa Arab disebut “al-Maktabah” yang berarti tempat menyimpan buku-buku. Sedangkan menurut istilah “Perpustakaan merupakan kumpulan bahan tercetak dan non tercetak dan atau sumber informasi dalam komputer yang tersusun secara sistematis untuk kepentingan pemakai.”[3]
Menurut Sutarno NS, “Perpustakaan adalah suatu ruangan, bagian dari gedung/bangunan, atau gedung itu sendiri, yang berisi buku-buku koleksi, yang disusun dan diatur sedemekian rupa sehingga mudah dicari dan dipergunakan apabila sewaktu-waktu diperlukan untuk pembaca.”[4] Adjat Sakri menjelaskan, bahwa perpustakaan adalah lembaga yang menghimpun pustaka dan menyediakan sarana bagi orang untuk memanfaatkan koleksi pustaka tersebut.”[5] C. Larasati Milburga, dkk mendefinisikan bahwa perpustakaan adalah suatu unit kerja yang berupa tempat menyimpan koleksi bahan pustaka yang diatur secara sistematis dengan cara tertentu untuk digunakan secara berkesinambungan oleh pemakainya sebagai sumber informasi.”[6]
Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik suatu kesimpulan pengertian perpustakaan sesecara umum adalah suatu unit kerja yang berupa tempat mengumpulkan, menyimpan dan memelihara koleksi pustaka baik buku-buku ataupun bacaan lainnya yang diatur, diorganisasikan dan diadministrasikan dengan cara tertentu untuk memberi kemudahan dan digunakan secara kontinu oleh pemakainya sebagai informasi.
B.  Tujuan dan Fungsi Perpustakaan Sekolah
Pemakai perpustakaan sekolah terbatas, yakni para siswa, guru dan karyawan sekolah yang bersangkutan. Dengan pengadaan bahan pustaka yang menunjang kurikulum, diharapkan para siswa mendapat kesempaten untuk mempertinggi daya serap dan penalaran dalam proses pendidikan, sedangkan kepada guru diharapkan dapat memperluas cakrawala pengetahuannya dalam kegiatan mengajar. Demikian pula bagi para karyawan bukan guru, perpustakaan dapat membantu mereka untuk lebih menghayati tugasnya masing-masing di lingkungan pendidikan sehingga semakin dapat berperan serta. Dengan demikian pengetahuan yang memadai, orang dapat tidak merasa rendah diri, sekaligus dari perpustakaan itu mereka juga memperoleh hiburan yang sehat. Jadi “tujuan perpustakaan sekolah adalah untuk mempertinggi daya serap dan kemampuan siswa dalam proses pendidikan serta membantu memperluas cakrawala pengetahuan guru/karyawan dalam lingkungan pendidikan.”[7]
Ada beberapa fungsi perpustakaan sekolah, yaitu:
1.      Membantu para siswa melakukan penelitian dan membantu menemukan keterangan-keterangan yang lebih luas dari pelajaran yang didapatnya di dalam kelas.
2.      Memupuk daya kritis siswa.
3.      Membantu memperkembangkan kegemaran dan hobi siswa dengan adanya berbagai buku tentang keterampilan-keterampilan yang meningkatkan daya kreasi siswa.
4.      Tempat untuk melestarikan kebudayaan. Adanya koleksi-koleksi karya sastra dan budaya dari masa ke masa, siswa dapat mempelajari dari perpustakaan.
5.      Sebagai pusat penerangan. Berbagai informasi-informasi perkembangan zaman sebagai penerangan bagi siswa untuk berpijak pada zamannya.
6.      Menjadi pusat dokumentasi. Berbagi dokumen-dokumen sekolah baik dari hasil karya siswa ataupun dokumen lainnya yang berharga untuk dikenang dan diketahui para siswa tahun-tahun berikutnya bahkan bisa menjadi pendorong untuk maju.
7.      Sebagai tempat rekreasi. Bacaan-bacaan ringan, cerita-cerita fiksi yang tersedia di perpustakaan dapat menjadi pelepas ketegangan setelah sekian jam menggeluti ilmu di dalam kelas. Masuk perpustakaan dan membaca bacaan segar merupakan rekreasi yang sehat dan tetap mendidik.[8]
C.  Pentingnya Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah
Sesuai dengan namanya, perpustakaan sekolah tentu berada di sekolah, dikelola oleh sekolah, dan berfungsi untuk sarana kegiatan belajar-mengajar, penelitian sederhana, menyediakan bahan bacaan guna menambah ilmu pengetahuan, sekaligus rekreasi sehat di sela-sela kegiatan belajar. Perpustakaan sekolah sangat bermanfaat dalam menunjang penyelenggaraan dan proses belajar mengajar. Oleh karena itu pada prinsipnya setiap sekolah diwajibkan menyediakan perpustakaan,dan perpustakaan merupakan bagian dari kegiatan sekolah. Keberadaan perpustakaan di suatu lembaga pendidikan adalah tepat sekali karena dapat membantu dan meningkatkan tugas para pendidik dan juga membantu siswa dalam studinya. Bahan koleksi yang bermacam-macam yang disusum secara sistematis ditambah lagi lengkapnya fasilitas yang tersedia serta mendapat pelayanan yang baik, maka akan membangkitakn minat siswa yang tinggi untuk memanfaatkan perpustakaan sehingga ia tidak akan menyianyiakan waktu kosong mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, misalnya minat siswa-siswa yang cerdas yang pada gilirannya akan tercapai tujuan pendidikan yang dikehendaki. Untuk mencapai tujuan tersebut akan banyak tergantung pada bagaimana belajar yang dialami oleh siswa sebagai peserta didik. Semakin tinggi tingkat aktivitas belajar siswa semakain tinggi pila tingkat keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan siswa yang diharapkan berhasil, karena “aktivitas belajar akan alebih efesien bila jelas tujuan yang akan dicapai.”[9]
Sesuai dengan konsep pendidikan sekarang, interaksi belajar mengajar bukan hanya bertumpu pada guru sebagai sumber belajar, namun pendidikan sekarang menghendaki keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar dengan kata lain siswa bukan hanya sebagai objek tetapi ia juga harus sebagai subjek yang ikut ambil bagian dalam interaksi belajar yang berlangsung. Dengan demikian adanya aktivitas dalam belajar adalah merupakan hal yang penting seperti dikatakan oleh Sardiman A.M. bahwa:
“Pada prinsipnya belajar adalah berbuat, berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Itulah sebabnya aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting di dalam interaksi belajar mengajar.”[10]
Aktivitas belajar tersebut bukan hanya menerima pelajaran yang diberikan untuk dihafal, namun pengetahuan yang didapatnya tersebut dapat dikembangkan dalam tingkat aktivitas yang lebih bervariasi sebagi kemampuannya untuk mengeluarkan pendapat, merumuskan, menganalisa, dan lain-lain. Tentunya untuk mendukung semua itu perpustakaan sekolah adalah merupakan sarana yang tepat karena dari perpustakaan tersebut siswa dapat menggali sumber pengetahuan dan informasi-informasi lainnya dari buku-buku yang tersedia, dengan membaca buku akan didapat pengetahuan dan informasi yang tiada habis-habisnya digali, dan ia dapat menjembatani antar manusia, tempat dan waktu.
D.  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemanfaatan Perpustakaan
Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi terhadap pemanfaatan perpustakaan sekolah adalah:
1.      Minat Siswa
Faktor minat siswa sangat menentukan terhadap pemanfaatan perpustakaan sekolah, karena siswa ada kesadaran pribadi siswa sebagai pendorong jiwanya untuk memanfaatkan perpustakaan sekolah demi kelancaran studinya, seperti dikatakan Sardiman A.M :
“Minat diartikan sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhannya sendiri. Oleh karena itu apa yang dilihat seseorang sudah tentu akan membangkitkan minatnya sejauh apa yang dilihat itu mempunyai hubungan dengan kepentingan sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa minat merupakan kecenderungan jiwa seseorang kepada seseorang.”[11]
Dengan adanya minat siswa terutama dalam hal membaca bukubuku yang tersedia di perpustakaan sekolah maka dengan sendirinya perpustakaan sekolah tersebut turut membantu terhadap kelancaran aktivitas belajar siswa itu. Karena bagaimanapun lengkap dan baik sarana dan fasilitas yang ada pada perpustakaan sekolah tidak akan bermanfaat sebagaimana yang diinginkan kalau tidak ada minat siswa untuk memanfaatkannya terutama minat baca siswa terhadap buku-buku perpustakaan.
2.      Tenaga Pengelola
Faktor ini sangat memegang peranan yang sangat menentukan berhasil tidaknya sebuah perpustakaan. Oleh karena itu untuk membuat perpustakaan bermanfaat sesuai dengan tugas, fungsi dan tujuannya. Maka para pengelola, penyelenggara bisa menyadari akan kepentingan dan kedudukan perpustakaan bagi pelajar, memahami kepoerluan siswa dan kemudian menguasai liku-liku kegiatan dan teknik pekerjaan perpustakaan itu sendiri. Seperti dikatakan oleh Larasati Milburga, dkk bahwa, “Seorang pengelola perpustakaan tidak cukup hanya dibekali keahlian teknis dan pengetahuan yang memadai tentang ilmu keperpustakaan, melainkan harus memiliki kemampuan mental tertentu.”17
Seorang petugas perpustakaan harus memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap pengelolaan perpustakaan agar misi yang ditanggung oleh perpustakaan dapat dicapai. “Maka sungguh diharapkan bahwa seorang petugas perpustakaan pertama-tama adalah pencinta buku, atau terlebih lagi pencinta ilmu pengetahuan.”18
Kecintaan akan buku dan ilmu pengetahuan akan membuat orang antusias untuk terus menambah koleksi, mengusahakan agar semakin banyak orang bisa menikmati dan menggunakannya, mengusahakan orang yang membutuhkan informasi dengan mudah dan dengan segera menemukan yang dibutuhkannya. Seorang pustakawan yang sejati tidak akan senang melihat ruang perpustakaan sunyi, sepi dan buku-buku perpustakaan rapi dan teratur dan bersih yang berarti tidak pernah dimanfaatkan.19
Pada umumnya pengelola perpustakaan di sekolah diserahkan kepada salah seorang guru yang diberi tanggung jawab pengelola perpustakaan disamping tugas mengajarnya yang utama. “Pengelola perpustakaan sekolah adalah seorang guru yang ditugaskan oleh kepala sekolah dan tugasnya bukan sekedar menjaga buku tetapi seluruh kegiatan perpustakaan harus dapat dilaksanakannya seperti seorang pustakawan.”[12]
Untuk menjadi pustakawan perlu memenuhi persyaratan tertentu, antara lain menguasai kurikulum sekolah dengan kegiatan perpustakaan. Guru pustakawan hendaknya mampu menyebarluaskan misi dan pencapaian tugas perpustakaan serta membina dan meningkatkan minat baca siswa. Dengan adanya kecakapan dan pengetahuan serta moral para pengelola perpustakaan sekolah, maka dengan sendirinya pengelolaannya juga akan baik sehingga akan menunjang terhadap kelancaran proses belajar di sekolah.
3.      Koleksi Perpustakaan
Keadaan koleksi perpustakaan sebenarnya erat kaitannya dengan maksud didirikannya perpustakaan sekolah yaitu seperti yang dikatakan oleh C. Larasati Milburga, dkk bahwa: “Perpustakaan sekolah ialah berusaha memberikan pelayanan kepada sekolah agar kegiatan belajar-mengajar yang digariskan di dalam kurikulum dapat berjalan dengan lancar”.[13]
Sesuai dengan maksud itulah maka tentunya perpustakaan harus dapat menyediakan segala keperluan peralatan yang menunjang pengajaran yang dilaksanakan di sekolah baik berupa buku-buku pegangan, buku-buku pelengkap dan sebagainya maupun bahan-bahan pengajaran lainnya seperti alat peraga. Mengenai koleksi yang berupa buku, maka suatu perpustakaan sekolah paling tidak memerlukan buku-buku pegangan wajib murid, buku-buku pelengkap pelajaran murid dan buku-buku pegangan bagi guru dalam mengajar.
Oleh sebab itu segala bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan harus dapat  menunjang proses belajar mengajar, maka dalam pengadaan bahan pustaka hendaknya mempertimbangkan kurikulum sekolah, serta selera para pembaca yang dalam hal ini adalah murid-murid.[14] Bahan-bahan yang diperlukan untuk koleksi perpustakaan selain buku-buku adalah majalah, surat kabar, kliping, bahan-bahan stensilan, pamplet-pamplet dan alat peraga lainnya seperti globe, peta dan sebagainya. Mengenai keadaanya juga harus ditempatkan pada tempatnya dan murid mudah terlihat serta telah diinventarisir sebelum digunakan.
4.      Motivasi Guru
Motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong untuk melakukan sesuatu. Menurut Mc. Donald seperti dikutip oleh Sardiman A.M. motivasi adalah “perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya ‘feeling’ dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan”.[15]
Ada dua jenis motivasi, yaitu:
a.       Motivasi Intrinsik. Jenis motovasi ini timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan dari orang lain, tetapi atas kemampuan sendiri.
b.      Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar.[16]
Sehubungan dengan pemanfaatan perpustakaan sekolah, maka motivasi guru adalah merupakan salah satu faktor yang turut mempengaruhi, karena tanpa adanya motivasi yang diberikan oleh guru untuk memanfaatkan perpustakaan dalam aktivitas belajarnya siswa akan terpacu untuk meningkatkan aktivitas belajarnya.
Motivasi guru ini perlu diperhatikan, karena untuk membangkitakan atau menggairahkan siswa tehadap perpustakaan diperlukan bantuan guru, seperti yang dikatakan oleh Conny Semiawan, dkk “Guru hendaknya berperan sebagai pendorong, motivasi, agar motifmotif positif dibangkitkan dan atau ditingkatkan dari dalam diri anak”.[17]
Motivasi yang diberikan oleh guru di sini bukan hanya dalam membangkitkan gairah siswa terhadap pepustakaan, namun juga bisa diberikan dengan penugasan yang mengharuskan mereka memanfaatkan bahan perpustakaan juga memberikan motivasi untuk gemar membaca.
5.      Gedung dan Fasilitas Perpustakaan
Mengenai keadaan gedung perpustakaan ini yang harus diperhatikan adalah letak, jumlah ruangan dan tata ruangannya, yang perlu diperhatikan untuk mendirikan perpustakaan sekolah yaitu:
a.       Letak. Perpustakaan berada di tengah-tengah tempat berlangsungnya kegiatan sekolah, sehingga mudah dicapai dari segala arah.
b.      Konstruksi/ keadaan gedung. Mampu menahan berat perabot dan isinya, tahan api dan tahan bakar, cukup banyak celah untuk memungkinkan memberi penerangan secara alamiah dan tanpa banyak tiang serta penyekat.
c.       Pengaturan ruangan. Tergantung dari laus serta bentuk ruangan, dan demi kemudahan pelayanan, tetapi haruslah diperhatikan juga segi-segi arsistik, kenyamanan ventilasi, kesegaran ruangan dan keasriannya.[18]
E.  Perpustakaan sebagai Media Pembelajaran
Dalam rangka memanfaatkan perpusatakaan sebagai media belajar, maka diperlukan keterampilan-keterampilan seperti berikut:
1.      Keterampilan mengumpulkan informasi, di antaranya:
a.       Mengenal sumber informasi dan pengetahuan
b.      Menentukan sumber  informasi berdasarkan sistem klasifikai perpustakaan, cara menggunakan katalog dan indek
c.        Menggunakan bahan pustaka baru, bahan referensi seperti ensiklopedi, kamus, buku dan lain sebagainya[19]
2.      Keterampilan mengambil intisari dan mengorganisasikan informasi, seperti:
a.       Keterampilan menganalisis, menginterpretasikan  dan mengevaluasi informasi:
b.      Memahami bahan yang dibaca
c.       Membedakan fakta dan opini
d.      Menginterpretasikan informasi baik yang mendukung atau yang berlawanan[20]
3.      Keterampilan menggunakan informasi, di antaranya:
a.        memanfatkan intisari informasi untuk mengambil keputusan dan memecahkan masalah
b.       memanfaatkan informasi dalam diskusi
c.       menjadikan informasi dalam bentuk tulisan[21]

Misi perpustakaan secara umum adalah memberikan layanan yang maksimal untuk memenuhi kebutuhan pemakainya melalui layanan bahan pustaka yang ada diperpustakaan. Kelengakapan sarana dan bahan-bahan di perpustakaan memiliki makna yang tersendiri bagi terciptanya kualitas sumber daya manusia, baik yang dilakukan oleh lembaga pendidikan formal maupun non formal. Karena dengan kelengkapan bahan-bahan dan sarana yang dibutuhan oleh peserta didik atau konsumen yang membutuhkannya, akan dapat membantu memberi kemudahan dalam belajar. Hal ini penting difahami, karena perpustakaan selama ini masih dirasakan manfaatnya akan kehadirannya baik di tengah-tengah masyarakat atau di lembaga pendidikan. Di mana perpustakaan dijadikan sebagai sarana belajar dan menjadi sumber belajar oleh siapapun yang membutuhkannya.[22]
Kelengkapan fasilitas dan sarana pada lembaga perpustakaan akan memberikan kenyamanan dan kemenarikan bagi para ownernya untuk selalu datang memanfaatkan perpustakaan. Dengan seringnya para pengguna untuk mendatangi gedung perpustakaan, dengan sendirinya budaya minat baca akan tumbuh dan sikap positif terhadap perpustakaan akan selalu hadir dalam benak siswa atau para pengguna perpustakaan. Hal ini yang penting dikembangkan dalam rangka meningkatkan fungsi pelayanan perpustakaan agar dapat memberikan kepuasan bagi pelanggannya.[23]
F.   Strategi Pengembangan Pembelajaran Berbasis Perpustakaan
Sebagaimana telah disebutkan diatas, Prof. DR. Arif Furqon, Ph.D. telah menawarkan pendekatan baru ini dalam sistem pendidikan di Perguruan Tinggi di Indonesia, yaitu Sistem Pembelajaran Berbasis Perpustakaan. Menurut beliau ada beberapa strategi yang perlu dikembangkan untuk merealisasikan pendekatan tersebut, sebagai berikut:
  1. Dosen bersama dengan lembaga perpustakaan mendesain program (silabus) pembelajaran (matakuliah) berbasis perpustakaan, termasuk cara mengevaluasi keberhasilan belajar mahasiswa, dilakukan satu semster sebelum kuliah.
  2. Perpustakaan mempersiapkan sumber informasi yang dibutuhkan oleh mata kuliah tersebut (hams sudah selesai setidaknya seminggu sebelum kuliah mulai)
  3. Mahasiswa dipersiapkan untuk kegiatan pembelajaran berbasis petpustakaan (di hari pertama perkuliahan).
  4. Dosen melaksanakan pembelajaran.
  5. Dosen memonitor perkembangan dan melakukan penyesuaian sana-sini.
  6. Pada akhir semester dosen dibantu pihak petpustakaan melakukan evaluasi keberhasilan program untuk pengembangan.
  7. Hasil evaluasi digunakan untuk memperbaiki desain program guna meningkatkan kinerja program.
  8. Sikhs baru dimulai.
Siapa yang memulai?
  1. Idealnya adalah Rektor/Ketua STAl sebagai penanggungjawab utama mutu lulusan perguruan tinggi.
  2. Pembantu Rektor
  3. Dekan, Pembantu Dekan
  4. Kepala perpustakaan dan dosen
Pendekatan ini diawali dengan sebuah Participatory Action Research (PAR) untuk melihat keefektifitasannya di lapangan. Institusi-institusi yang tertarik untuk berpartisipasi diperkenankan untuk mendaftarkan diri. Sementara itu, didalam sebuah artikel, David Loertscher & Blanche Woolls, memberikan beberapa saran untuk mengimplementasikan program pengajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis perpustakaan, sebagai berikut:
  1. Ciptakan lingkungan infonnasi yang kaya teknologi di perpustakaan
  2. Lengkapi perpustakaan dengan seorang pustakawan-pengajar professional dan pegawai suruhan dan teknis (yang terakhir berguna untuk menjalankan operasional program yang membaniu pustakawan-pengajar untuk melaksanakan pengajaran).
  3. Ketika seorang dosen dan pustakawan berkolaborasi dalam proses pembelajaran mereka harus memulai dengan standard tertulis yang sudah dibangun.
  4. Selanjutnya, dosen dan pustakawan membuat sebuah rubrik yang memuat isi materi, keterampilan informasi, dan kontribusi teknologi, dan sejumlah bahan bacaan yang harus dibaca oleh mahasiswa selama dalam pengalaman program pembelajaran.
  5. Para mahasiswa akan menyadari apa yang sesungguhnya diharapkan untuk mereka pelajari dan kerjakan dalam sebuah lingkungan informasi yang kaya teknologi.
  6. Dosen dan pustakawan pengajar mengajar bersama-sama.
  7. Kedua partner tersebut menguji sejauh mana mahasiswa berhasil mencapai standard tertulis melalui rubrik yang telah diberikan.
  8. Kedua partner tersebut mengukur keberhasilan mereka sendiri secara realistis dan memodifikasi strategi mereka.
Pada hakekatnya pengajaran keterampilan informasi ini sangat penting bagi mahasiswa perguruan tinggi untuk kemampuan riset mereka. Namun, melihat berbagai macam kekurangan dari infrastruktur informasi yang ada di banyak Perguruan Tinggi, baik negeri maupun swasta, maka realisasi program ini hanya dapat dilaksanakan di PT yang telah mempunyai infrastruktur yang mapan. Dan ini berarti bagi institusi yang belum mapan secara infrastruktur dan SDMnya, ide ini hanya akan tinggal wacana saja. Dan, akan tetap menjadi wacana selamanya bila tidak ada usaha-usaha untuk merealisasikan program tersebut. Jika komitmen peningkatan kualitas pendidikan adalah student-centered dimana kepentingan mahasiswa adalah yang utama dan menjadi sasaran akhir proses pembelajaran, maka Perguruan Tinggi yang belum mempunyai infrastruktur informasi yang mapan perlu mempersiapkan hal-hal berikut:
  1. Percepatan Program komputerisasi perpustakaan un’mk menciptakan sistem penelusuran informasi yang mendukung, seperti penyediaan OPAC (online public access catalog)
  2. Berpartisipasi dalam jaringan perpustakaan online Perguruan Tinggi se-Indonesia, untuk memungkinkan akses koleksi perpustakaan PT yang lain dan melakukan peminjaman silang layan (Inter Libmy Loan)
  3. Penyediaan koleksi digital dalam format CD-ROM dan jurnal elektronik di perpustakaan.
  4. Penyediaan akses internet di perpustakaan atau pusat informasi yang dapat diakses oleh mahasiswa
  5. Penyediaan surnber daya manusia yang mampu menjadi teacher-librarian secara professional.











DAFTAR PUSTAKA
Al Hamid, Zaid Husein. 1982. Kamus Al-Muyassar Arab-Indonesia. Pekalongan.
Departemen Pendidikan dan Kebuadayaan. 1988. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Larasati Milburga, dkk. 1991. Membina Perpustakaan sekolah. Yogyakarta: Kanisius.
Soetminah. 1992.  Perpustakaan, Kepustakawanan dan Pustakawan. Yogyakarta: Kanisius.
Sutarno NS. 2003. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Zuhdi, Nadjib. 1993.  Kamus Lengkap Praktis 20 Juta Inggris Indonesia. Surabaya: Fajar Mulya.
























IMPLEMENTASI MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS PERPUSTAKAAN
  1. Adminitrasi
Kegiatan adminitrasi perpustakaan sekolah meliputi:
a.    Pencatatan anggota baru
b.    Peminjaman dan pengembalian buku
c.    Pencatatan denda keterlambatan pengembalian buku
d.   Pembelian kartu anggota perpustakaan
e.    Pembuatan statistik peminjaman dan pengunjung perpustakaan
f.     Pembuatan kartu bebas perpustakaan
g.    Pencatatan daftar buku yang akan dibeli
  1. Pengadaan Bahan pustaka
Koleksi perpustakaan harus menunjang kurikulum sekolah, koleksi bahan pustaka di perpustakaan menunjang proses belajar-mengajar siswa di sekolah. Siswa yang mengalami kesulitan dalam sumber referensi belajar dapat memanfaatkan perpustakaan. Penggadaan bahan pustaka disesuaikan dengan anggaran serta pemilihan bahan pustaka sesuai dengan kurikulum yang berlaku, dengan melibatkan staf pengajar bahan pustaka di perpustakaan disesuaikan agar menunjang mata pelajaran sehingga proses pengadaan dapat berjalan dengan baik dan tujuan perpustakaan dapat terlaksana.
a.    Membeli
Penggadaan Bahan Pustaka dengan cara membeli, pihak sekolah memberikan anggaran yang memadai. Di samping menyediakan anggaran, perpustakaan harus menentukan macam dan jenis bahan pustaka yang akan dijadikan koleksi perpustakaan. Dana berasal dari komite sekolah yang keluar setiap satu tahun sekali, pembelian bahan pustaka disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan guru untuk bahan mengajar, sehingga perpustakaan dapat berfungsi dengan baik.
b.    Membuat Sendiri / Swadaya
Bahan pustaka dapat juga membuat sendiri, misalnya dengan guru memberikan tugas siswa dan hasilnya dapat digunakan oleh siswa lainsebagai sumber referensi. Perpustakaan juga membuat kliping soal-soal ujian nasional yang dapat dipinjam siswa untuk sumber belajar.
c.    Sumbangan
Bahan pustaka yang ada di perpustakaan selain membeli dan membuat sendiri mendapatkan sumbangan dari pemerintah berupa buku paket, fiksi, non fiksi dan majalah sastra horison. Buku-buku tersebut dapat digunakan sebagai bahan rujukan pada siswa yang memanfaatkan perpustakaan.
  1. Pengolahan Bahan Pustaka
Pengolahan bahan pustaka meliputi :
a.    Inventarisasi. Inventarisasi merupakan buku induk dari perpustakaan, mencatat bahan pustaka yang masuk dalam jangka waktu tertentu, sumber dan harga buku bila dibeli (Soetminah, 1995:81). Data dari kegiatan inventaris dapat digunakan untuk pembuatan data statistik meliputi jumlah koleksi yang dimiliki perpustakaan, jumlah judul dan eksemplarnya, jumlah eksemplar yang berbahasa asing dan Indonesia, jumlah buku referensi, fiksi , paket dan lainnya, dan jumlah anggaran perpustakaan untuk pembelian bahan pustaka.
b.    Klasifikasi. Klasifikasi adalah kegiatan pengelompokan buku : buku yang subjek atau isinya sama dikumpulkan dan yang berbeda dipisahkan. Klasifikasi sangat penting, khususnya perpustakaan dengan menggunakana sistem layanan terbuka yang memperbolehkan pemustaka untuk masuk ke ruang koleksi, melihat, memilih dan mengambil sendiri bahan pustaka yang diinginkan. Klasifikasi digunakan sebagai pedoman penyusunan bahan pustaka di rak atau lemari berdasarkan urutan yang logis untuk memudahkan pemustaka dalam pencarian bahan pustaka yang diperlukan.
c.    Katalogisasi. Katalogisasi adalah kegiatan membuat katalog untuk semua judul buku millik perpustakaan (Soetminah, 1995:85), merupakan alat bantu untuk mencari dan menemukan kembali dengan mudah suatu buku di perpustakaan, maka setiap judul buku perlu dibuatkan kartu dengan entri pengarang, judul dan subjek.
d.   Labeling. Kegiatan dalam pelabelan buku di perpustakaan, meliputi : 1) Memberi label sandi buku yang ditempel pada punggung buku, sandi buku menunjukan tenpat buku itu disimpan. 2) Membuat kartu buku untuk setiap eksemplar dan disimpan dalam kantong yang ditempal dalam buku. Kartu buku digunakan untuk adminitrasi perpustakaan. 3) Membuat label tanggal dan ditempel di dalam buku, label tanggal digunakan untuk mencatat tanggal pinjam atau tanggal kembali.
e.    Shelving. Setelah buku di klasifikasikan sesuai dengan klasifikasinya, buku ditata kedalam rak penataan. Penataan bahan pustaka sesuai dengan nomor klasifikasi menurut tajuk subyek sesuai dengan DDC (Dewey Decimal Classification).
  1. Penggunaan Perpustakaan sebagai Media Pembelajaran
a.       Sebelum melaksanakan pembelajaran, guru menyiapkan segala habaik berupa materi, penguasaan materi, rencana pelaksanaan pembelajaran, maupun evaluasi pembelajaran
b.      Pada saat pelaksanaan pembelajaran, guru memberikan penjelasan yang berkaitan dengan pembelajaran baik berupa pengarahan dan pendalaman teori sesuai dengan rencangan pembelajaran yang telah ditentukan.
c.       Guru meminta siswa untuk mencari reverensi terkait dengan tugas-tugas yang diberikan pada saat kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan perpustakaan sebagai media belajar
d.      Guru memantau pemanfaatan fasilitas perpustakaan oleh siswa dengan memberikan pengarahan seperlunya
e.       Siswa secara aktif berusaha mencari dan menemukan sumber-sumber bacaan yang berkaitan dengan tugas yang diberikan
f.       Guru pada akhirnya melakukan evaluasi kerja siswa



[1] Departemen Pendidikan dan Kebuadayaan, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), hlm. 713.
[2] Nadjib Zuhdi, Kamus Lengkap Praktis 20 Juta Inggris Indonesia  (Surabaya: Fajar Mulya, 1993), hlm. 270.
[3] Zaid Husein Al Hamid, Kamus Al-Muyassar Arab-Indonesia  (Pekalongan: 1982), hlm. 494.
[4] Sutarno NS, Perpustakaan dan Masyarakat (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003), hlm. 7.
[5] Soetminah,  Perpustakaan, Kepustakawanan dan Pustakawan (Yogyakarta: Kanisius,1992), hlm. 32.
[6] Larasati Milburga, dkk,  Membina Perpustakaan sekolah (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hlm. 17.
[7] Ibid., hlm. 57.
[8] Ibid., hlm. 81-82.
[9] Agus Soejanto,  Bimbingan Ke Arah Belajar Yang Sukses  (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hlm. .25.
[10] Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar  (Pedoman Bagi Guru dan Calon Guru) (Jakarta: Rajawali Press, 1988), hlm. 94.
[11] Sardiman A.M, Interaksi, hlm. 76.
[12] T.M Sumantri, Panduan Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 7.
[13] Larasati Milburga, dkk,  Membina, hlm. 55-56.
[14] Ibrahim Bafadal, Pengelolaan Perpustakaan Sekolah  (Jakarta : Bumi Aksara, 1992), hlm. 5.
[15] Larasati Milburga, dkk,  Membina, hlm. 73.
[16] Sardiman A.M, Interaksi, hlm. 73.
[17] Moh Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 29.
[18] Conny Semiawan, Pendekatan Keterampilam Proses (Bagaimana Mengaktifkan Siswa dalam Belajar) (Jakarta: Gramedia, 1990), hlm. 10.
[19] http://meretasmasadepan.blogspot.com/2011/03/pemanfaatan-perpustakaan-sebagai-sumber.html,  akses 20 Mei 2012.
[20] Ibid.
[21] Ibid.
[22] Ibid.
[23] Ibid.
Share this article :

Poskan Komentar